Rancangan RPJMN 2025-2029 yang menjadikan Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan (SSP) sebagai salah satu kegiatan prioritas di bawah Program Prioritas Ekosistem Ekonomi Sirkular pada Prioritas Nasional ke-2 merupakan bentuk komitmen Indonesia dalam upaya pencegahan dan pengurangan SSP.
Hal tersebut diungkapkan oleh Pejabat Pelaksana Kegiatan Kewaspadaan Pangan Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) Nita Yulianis pada seminar “Indonesia-Japan Circular Economy Development in Waste Management Including Food Loss and Waste” yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Bidang Pangan di Jakarta, Kamis (16/1/2025).
“Penyelamatan Pangan menjadi salah satu indikator untuk pencapaian target nasional dalam menurunkan susut dan sisa pangan, hal ini tentunya menjadi potensi untuk dapat dikerjasamakan dengan Pemerintah Jepang” papar Nita
Pada kesempatan tersebut Nita juga menyampaikan bahwa NFA terus berupaya melakukan sosialisasi kepada masyarakat pentingnya upaya mengurangi pemborosan pangan melalui Gerakan Selamatkan Pangan.
“Upaya pencegahan pemborosan pangan dibutuhkan keterlibatan multi stakeholder, untuk selanjutnya perlu terus digiatkan dengan mendorong peran serta masyarakat agar dapat merubah perilaku boros pangan” ungkap Nita.
Sementara itu Asisten Deputi Ekonomi Sirkular dan Dampak Lingkungan Rofi Alhanif yang membuka kegiatan tersebut mewakili Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan, Kementerian Koordinator Bidang Pangan menyampaikan bahwa seminar ini dilaksanakan sebagai tindaklanjut dari kunjungan Perdana Menteri Jepang ke Presiden RI, membahas potensi kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Jepang. “Seminar ini diharapkan dapat memperkuat urgensi penanganan susut dan sisa pangan sebagai potensi yang bisa dikerjasamakan dengan pemerintah Jepang,” ungkap nya.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Lingkungan Hidup Jepang Yutaka Matsuzawa menyampaikan bahwa kerja sama pemerintah Indonesia dan Jepang di bidang lingkungan hidup sudah berjalan intens, khususnya dalam pengelolaan limbah dan mengatasi sampah laut telah membuahkan hasil yang nyata melalui peningkatan kapasitas melalui seminar, training, pertukaran kunjungan, dan mendorong investasi dalam pengelolaan limbah.
Turut hadir pada seminar tersebut oleh Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Atase Lingkungan Hidup Kedutaan Besar Jepang, Direktur Lingkungan Hidup Bappenas, perwakilan dari beberapa kementerian seperti Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pertanian, Kementerian Pariwisata serta Bappeda Jawa Barat, dan mitra lainnya.