JAKARTA – Komoditas daging ayam dan telur ayam terus menjadi perhatian pemerintah. Sumber protein hewani terjangkau tersebut patut dijaga kestabilan harganya di pasaran. Terbaru, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut rerata harga kedua komoditas tersebut mulai sedikit melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) tingkat konsumen pada minggu kedua Februari 2026 ini.
Untuk itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) berkolaborasi dengan kalangan swasta menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) daging ayam beku. Perusahaan swasta yang terlibat antara lain PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPI) dan PT Japfa Comfeed Indonesia (Japfa).
CPI menggelar GPM daging ayam beku di 1.200 outlet penjualan yang tersebar di seluruh Indonesia. Sementara Japfa memastikan GPM daging ayam beku tersedia di 500 outlet jaringannya. Masyarakat dipastikan dapat memperoleh daging ayam beku seharga Rp 40.000 per kilogram (kg). Periodenya mulai 18 Februari sampai sebari sebelum Idulfitri.
"Untuk daging ayam di beberapa tempat, kami pantau di wilayah Jakarta dan Tangerang, relatif masih bagus. Harga Rp 40.000, paling tinggi. Nah ini ada inisiatif positif kami bersama PT CPI dan Japfa menggelar GPM daging ayam ras. Jadi masyarakat dipastikan bisa membeli sesuai HAP yang telah ditentukan pemerintah," kata Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas Maino Dwi Hartono di Jakarta pada Kamis (19/2/2026).
Sementara menurut BPS, rerata harga daging ayam ras sampai minggu kedua Februari 2026 berada di Rp 40.471 per kg dengan batas maksimal HAP tingkat konsumen di Rp 40.000 per kg. Jumlah daerah yang mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) daging ayam ras disebutkan mencapai 155 kabupaten/kota.
Akan tetapi, dari 155 kabupaten/kota tersebut, hanya 53 daerah saja yang mengalami rerata harga daging ayam ras melampaui HAP tingkat konsumen. Sementara 102 daerah mengalami kenaikan IPH tapi rerata harganya masih tidak melebihi HAP tingkat konsumen.
Beralih ke komoditas telur ayam ras, Maino menjelaskan kondisi harga saat ini masih terpantau stabil tanpa gejolak berlebihan. Ketut optimis harga telur ayam ras sepanjang Ramadan dapat terkendali.
Terlebih, pemerintah telah siapkan paket program intervensi pangan yang tidak hanya menyasar konsumen saja. Namun juga menyasar ke produsen pangan dalam negeri seperti peternak unggas.
"Kalau telur, bervariasi. Ada yang Rp 30.000. Ada yang Rp 31.000 tapi kecenderungan memang sudah turun di beberapa tempat. Mulai menurun menjadi Rp 29.000 sampai Rp 30.000 untuk telur, menurut kami pantauan kami," terang Direktur Maino.
Dalam laporan BPS, untuk rerata harga telur ayam ras secara nasional sampai minggu kedua Februari 2026 disebutkan berada di Rp 31.757 per kg dengan HAP tingkat konsumen maksimal di Rp 30.000 per kg. Sementara jumlah daerah yang mengalami kenaikan IPH telur ayam ras mencapai 80 daerah.
Dari 80 daerah yang mengalami kenaikan IPH tersebut, hanya 28 kabupaten/kota saja yang mengalami harga telur ayam ras melewati HAP tingkat konsumen. Sementara 52 kabupaten/kota lainnya masih cukup aman karena rerata harga telur ayam ras masih sesuai koridor.
Salah satu upaya pemerintah untuk menjaga kestabilan harga daging ayam dan telur ayam adalah pelaksanaan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan di tahun 2026 ini. Anggaran sebesar Rp 678 miliar, maka target penyaluran SPHP jagung pakan ke para peternak dapat mencapai total 242 ribu ton.
Diharapkan melalui program ini dapat menjadi angin segar karena target SPHP jagung di tahun 2026 meningkat drastis hingga hampir lima kali lipat dibandingkan realisasi tahun sebelumnya. Adapun penyaluran SPHP jagung tahun 2025 berada di angka 51,2 ribu ton yang menyasar ke 3.578 peternak ayam ras petelur di 17 provinsi.
Program SPHP jagung sendiri dinilai dapat membantu peternak layer mandiri memperoleh pakan dengan harga yang lebih terjangkau. Program ini dapat menjadi penopang kestabilan harga telur ayam dan daging ayam ras karena jagung termasuk sumber pakan ternak unggas yang banyak digunakan di Indonesia.
Terpisah, Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meminta agar harga daging ayam ras dan telur ayam ras tidak ada kenaikan. Ini karena kedua komoditas tersebut telah surplus secara nasional. Produksi dalam negeri mampu penuhi kebutuhan konsumsi rakyat Indonesia.
"Daging ayam dan telur ayam, tidak boleh naik. Kita surplus. Tidak ada alasan naik. Kita sekarang sudah swasembada 9 komoditas. Termasuk telur dan daging ayam, kita sudah swasembada," kata Amran saat di acara Gerakan Pangan Murah Serentak Nasional di Jakarta (13/2/2026).
-------------
Siaran Pers
Badan Pangan Nasional (Bapanas)
093/R-BAPANAS/II/2026
19 Februari 2026







