BANDA ACEH - Pemerintah terus memperkuat upaya penyelamatan pangan guna mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus mengurangi sisa pangan. Badan Pangan Nasional (Bapanas) mendorong keterlibatan berbagai pihak agar pangan yang masih aman dan layak konsumsi dapat dimanfaatkan secara optimal dan tidak berakhir menjadi sampah.
Direktur Kewaspadaan Pangan Badan Pangan Nasional, Nita Yulianis mengatakan, penyelamatan pangan menjadi bagian penting dalam membangun sistem pangan berkelanjutan. Hal itu disampaikan dalam kegiatan Rapat Koordinasi dan Sosialisasi Penyelamatan Pangan Provinsi Aceh, Rabu (6/5/2026).
“Penyelamatan pangan menjadi bagian penting dalam membangun sistem pangan berkelanjutan dan memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujar Nita.
Menurut Nita, upaya penyelamatan pangan dimulai dari pencegahan sisa pangan sebagai prioritas utama. Pangan berlebih yang masih aman dan layak konsumsi dioptimalkan pemanfaatannya melalui redistribusi pangan kepada masyarakat yang membutuhkan. Sementara, untuk pangan yang tidak layak konsumsi dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak, kompos, hingga kebutuhan industri melalui konsep ekonomi sirkular. “Pembuangan ke tempat pemrosesan akhir harus menjadi pilihan terakhir,” tegasnya.
Pemerintah, lanjut Nita, telah menetapkan target penyelamatan pangan dalam RPJMN 2025–2029 sebesar 3 hingga 5 persen pangan terselamatkan. Untuk mencapai target tersebut, diperlukan dukungan pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, media, dan masyarakat melalui kolaborasi pentahelix.
Untuk memperkuat upaya tersebut, Bapanas mengembangkan berbagai program seperti Platform Stop Boros Pangan, penyusunan modul redistribusi pangan, hingga fasilitasi kendaraan penyelamatan pangan. “Kami mendorong seluruh pihak aktif melaporkan aksi penyelamatan pangan agar data nasional semakin terukur dan terintegrasi,” kata Nita.
Praktik baik sektor perhotelan, retail, industri makanan minuman, dan jasa layanan makanan juga dipaparkan secara detail termasuk mekanisme di lapangan yang melibatkan peran serta bank pangan atau penggiat penyelamatan pangan untuk disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan sehingga memberikan dampak nyata dalam mengurangi sisa pangan sekaligus berkontribusi terhadap ketahanan pangan,” jelas Nita.
Nita turut menyoroti pentingnya peran perguruan tinggi dan civitas akademika dalam mendukung penyelamatan pangan melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi, mulai dari riset, pengabdian masyarakat, publikasi, hingga integrasi materi penyelamatan pangan dalam pembelajaran.
“Keterlibatan generasi muda penting untuk membangun budaya penyelamatan pangan di Indonesia,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Founder dan Direktur Eksekutif Rumoh Pangan Aceh, Rivan Rinaldi memaparkan program penyelamatan pangan melalui inisiatif Food Rescue, Food Drive serta edukasi dan kampanye. Program tersebut dilakukan dengan menyelamatkan makanan layak konsumsi yang berpotensi terbuang untuk kemudian didistribusikan kepada masyarakat membutuhkan, sekaligus menghimpun donasi pangan dari berbagai pihak.
Menurut Rivan, upaya penyelamatan pangan tidak hanya membantu mengurangi sisa makanan, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat. Ia menyebut, keterlibatan berbagai pihak menjadi kunci keberhasilan gerakan tersebut di Aceh.
Rivan mengatakan, sejak berdiri pada 2024, Rumoh Pangan Aceh telah berhasil menyelamatkan lebih dari 9 ton makanan dan menjangkau lebih dari 6.000 penerima manfaat. “Kami ingin memastikan pangan yang masih layak konsumsi dapat dimanfaatkan kembali untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, sekaligus mengurangi sisa pangan,” ujar Rivan.
Ia menambahkan, Rumoh Pangan Aceh telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan Badan Pangan Nasional sejak 2025 untuk memperkuat upaya penyelamatan pangan di Aceh.
Sementara itu, Kepala Dinas Pangan Aceh, Surya Rayendra mengapresiasi dukungan Badan Pangan Nasional terhadap upaya penyelamatan pangan di Aceh. “Melalui kegiatan ini kami menginisiasi kesepakatan bersama para pihak pentahelix di Provinsi Aceh agar lahir kolaborasi nyata dan berkelanjutan untuk mendukung ketahanan pangan serta mengurangi sisa pangan di Aceh,” ujar Surya.
Lebihlanjut, langkah konkrit ini juga diwujudkan dengan menggandeng peran pemuka agama dan TP PKK di Provinsi Aceh.
--------------------
Siaran Pers
Badan Pangan Nasional (Bapanas)
282/R-BAPANAS/V/2026
8 Mei 2026







