SALATIGA — Badan Pangan Nasional (Bapanas) mendukung penguatan ekosistem sapi perah dari hulu hingga hilir sebagai langkah strategis dalam mempercepat transformasi menuju swasembada susu nasional. Upaya ini sekaligus menjadi bagian penting dalam mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam kunjungan kerja spesifik Komisi IV DPR RI pada Kamis (9/4/2026) ke Kota Salatiga, Jawa Tengah, Direktur Ketersediaan Pangan Bapanas, Indra Wijayanto, menegaskan bahwa pembangunan ekosistem sapi perah yang terintegrasi menjadi kunci utama dalam meningkatkan kesejahteraan peternak sekaligus memperkuat produksi dalam negeri.
“Tentunya dari kami mendukung upaya Bapak Presiden yang menempatkan swasembada pangan sebagai salah satu program prioritas, sehingga ini harus kita dorong bersama-sama, dan kami siap untuk membantu agar ekosistem ini terbangun dari hulu hingga hilir,” ujarnya.
Indra menambahkan, penguatan sektor persusuan harus dilakukan secara komprehensif, mencakup peningkatan produktivitas di hulu hingga efisiensi dan nilai tambah di hilir, agar mampu mendorong peningkatan produksi susu nasional secara berkelanjutan hingga pengolahan dan distribusinya.
“Ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi kita. Kita sudah membuktikan mampu mencapai swasembada beras dan kita optimis dapat meningkatkan produksi susu dalam negeri menuju swasembada susu,” jelasnya.
Berdasarkan data tahun 2025, populasi sapi perah nasional tercatat sebanyak 499.360 ekor dengan produksi susu segar mencapai 820.874,82 ton. Produksi masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, dengan Jawa Timur sebagai kontributor terbesar, yakni populasi 301.735 ekor dan produksi 475.394,86 ton.
Di sisi hilir, penguatan industri pengolahan dan distribusi menjadi faktor penting dalam meningkatkan nilai tambah produk serta memperluas akses masyarakat terhadap konsumsi susu. Hal ini juga perlu diimbangi dengan menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.
Sepanjang tahun 2024, harga susu sapi segar menunjukkan tren kenaikan moderat dari Rp 16.389 per liter pada Januari menjadi Rp 16.619 per liter pada Desember, atau meningkat sebesar 1,40 persen. Kondisi ini mencerminkan pentingnya menjaga keseimbangan antara produksi, distribusi, dan konsumsi.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Panggah Susanto menekankan pentingnya pembangunan ekosistem sapi perah yang terintegrasi, seiring dengan meningkatnya kebutuhan konsumsi susu nasional yang belum sepenuhnya dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri.
“Tema ini menjadi relevan di tengah meningkatnya kebutuhan konsumsi susu nasional yang belum sepenuhnya terpenuhi dari produksi dalam negeri. Oleh karena itu, kami ingin memastikan adanya langkah-langkah strategis dan terintegrasi, tidak hanya terfokus pada peningkatan produksi di tingkat peternak, tetapi juga mencakup penguatan keseluruhan rantai pasok secara berkelanjutan,” ujar Pangah.
Ia juga menegaskan bahwa sektor peternakan sapi perah memiliki peran strategis, tidak hanya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, tetapi juga dalam memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
“Susu sebagai salah satu sumber protein hewani berkualitas memiliki kontribusi signifikan dalam pemenuhan gizi, khususnya bagi anak-anak, sehingga menjadi komponen penting dalam keberhasilan program nasional seperti Makan Bergizi Gratis,” pungkasnya.
-------------------
Siaran Pers
Badan Pangan Nasional (Bapanas)
224/R-BAPANAS/IV/2026
10 April 2026







