KARIMUN – Pemerintah memastikan ketersediaan beras hasil produksi dalam negeri dapat memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat di setiap jengkal Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ini termasuk bagi masyarakat di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang merupakan daerah nonsentra produksi beras.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menasbihkan komitmen pemenuhan kebutuhan beras Kepri tersebut saat visitasi di Kawasan Bea Cukai Tanjung Balai Karimun, Kepri pada Senin (19/1/2025). Bersama Perum Bulog, Amran meminta tidak boleh ada kekurangan beras di Kepri.
"Kita supply di sini. Kita sudah komitmen men-supply. Kita akan bangun gudang di sini. Ini Bulog yang bertanggung jawab, tidak boleh kekurangan beras. Kenapa? (karena) sekarang (stok) nasional kita surplus. Stok (beras pemerintah) kita tertinggi selama merdeka. Stok akhir tahun 3,2 juta ton, tidak pernah terjadi selama Republik Indonesia merdeka," beber Kepala Bapanas Amran.
Adapun dalam laporan yang Bapanas terima, total stok beras yang dikelola Bulog sampai 15 Januari 2026 masih terdapat 3,35 juta ton. Bapanas memastikan Bulog siap memasok beras ke wilayah Kepri sesuai hasil pertemuan koordinasi sebelumnya di Batam (15/1/2026).
Dalam persamuhan itu, Pemerintah Provinsi Kepri mengungkapkan angka kebutuhan konsumsi beras setahun di Kepri berkisar 202,6 ribu ton atau 16,9 ribu ton sebulan. Selain Bulog, Bapanas telah mendorong Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (PERPADI) untuk bantu mendistribusikan beras ke wilayah Kepri.
Untuk itu, Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman kembali menegaskan Indonesia tidak butuh impor beras lagi di tahun 2026. Ini karena stok beras secara nasional sangat memadai dan selaras dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang mengarahkan agar Indonesia mampu memenuhi pangan dari hasil keringat sendiri.
"Stok (beras) di horeka, hotel restoran katering, itu 12,5 juta ton. Tertinggi selama merdeka. Tidak ada alasan kekurangan beras. Jadi kami minta, ini dikirim terus (pasokan beras), gudangnya harus penuh, agar tidak ada alasan kekurangan beras," kata Amran.
Sebagaimana diketahui, dalam Proyeksi Neraca Pangan Nasional dilaporkan stok beras di awal tahun 2026 ada di 12,5 juta ton. Ini sudah termasuk stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) Perum Bulog sebesar 3,25 juta ton. Selain itu, stok beras nasional tersebar di tingkat rumah tangga produsen dan konsumen, penggilingan, pedagang, dan horeka (hotel, restoran, katering).
Torehan ton stok beras di awal tahun 2026 ini yang 12,5 juta tersebut meningkat pesat hingga 203,05 persen dalam 2 tahun terakhir. Ini karena pada stok awal tahun 2024 berada di angka 4,1 juta ton. Sementara terhadap stok awal tahun 2025 telah meningkat 49,12 persen karena stok awal 2025 berada di 8,4 juta ton.
"Yang jelas, Bapak Presiden itu melaksanakan apa yang terbaik untuk rakyat. Itu yang dilakukan presiden kita sekarang. Luar biasa, perhatiannya sektor pertanian. Luar biasa, HPP (Harga Pembelian Pemerintah) naik, itu mensejahterakan pertanian," ungkap Amran.
"Kemudian HET (Harga Eceran Tertinggi), membuat konsumen bahagia. Tetapi jangan lupa, ada Inpres 12 (buah), termasuk Permentan itu ada 25. Dampaknya apa? Kenaikan produksi dan ekspor kita nilainya Rp 400 triliun. Itulah kebijakan luar biasa dan ini kebijakan terbanyak selama kami 8 tahun di kabinet," pungkas Amran.
Patut diketahui, Provinsi Kepri merupakan daerah sentra konsumen karena produksi beras lokalnya masih tergolong minim. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras selama tahun 2025 di Kepri berada di angka 333 ton saja. Ini pun telah mengalami peningkatan 90,74 persen dibandingkan produksi beras tahun 2024.
----------------
Siaran Pers
Badan Pangan Nasional (Bapanas)
024/R-BAPANAS/I/2026
19 Januari 2026







