JAKARTA — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto sekali lagi mengungkapkan perhatian besarnya terhadap kondisi pangan pokok strategis yang tersedia bagi masyarakat. Kepala Negara mengaku kerap menghubungi langsung para pembantunya di awal hari untuk mendapatkan laporan harga pangan pokok strategis.
Presiden Prabowo dalam pidato kunci pada Forum Bisnis Indonesia-Jepang yang digelar pada Senin (30/3/2026) mengatakan pola micromanager diterapkan untuk dapat memperoleh data dan fakta yang detail. Termasuk terkait urusan harga pangan, seperti telur ayam ras.
"Ya, saya akui saya seorang micromanager. Saya akan menelepon menteri-menteri saya, jam 2 pagi atau jam 5 pagi, dan saya akan bertanya kepada mereka harga telur hari ini," kata Presiden Prabowo Subianto.
Adapun telur ayam ras merupakan salah satu pangan pokok strategis yang digemari masyarakat Indonesia, sehingga kestabilan harganya senantiasa dijaga pemerintah. Ini karena telur merupakan sumber protein hewani yang baik dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan sumber protein hewani lainnya.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), rerata konsumsi per kapita dalam seminggu untuk telur ayam ras di 2025 berada di angka 2,362 kilogram (kg). Jika ditilik dalam 10 tahun terakhir, rerata konsumsi telur 2025 tersebut telah meningkat 19,1 persen karena rerata konsumsi telur per kapita selama seminggu pada tahun 2016 berada di angka 1,983 kg.
Dalam kesempatan terpisah, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman yang juga Menteri Pertanian mengatakan Indonesia telah surplus untuk komoditas telur ayam ras. Pasokan melimpah dari produksi dalam negeri, bahkan Indonesia bisa ekspor. Dengan kondisi tersebut, Amran optimis harga telur ayam ras di ranah domestik dapat terus terjaga.
"Kita telur ayam sudah surplus, bahkan sudah ekspor. Jadi aku minta tidak ada alasan harga naik di masyarakat. Kalau sampai ada kenaikan, aku minta Satgas Saber telusuri sampai distributor dan produsennya. Tidak boleh ada yang membuat anomali harga pangan," tegas Amran.
Terbaru, dalam pengawasan Satuan Tugas (Satgas) Sapu Bersih (Saber) Pelanggaran Harga, Keamanan dan Mutu Pangan per 30 Maret, harga telur ayam ras di pasar-pasar rakyat dijumpai masih dalam koridor kewajaran. Satgas Saber Pangan bahkan mencatat mulai terjadi depresiasi harga telur ayam ras usai Idulfitri.
Petugas Bapanas bersama mitra kerja di daerah mencatat harga telur ayam ras di Pasar Kranggan, Yogyakarta, D.I.Yogyakarta (DIY) telah turun hingga menjadi Rp 28.000 per kg. Begitu pula di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, DIY harga telur ayam ras sejak 3 hari ini turun menjadi Rp 28.000 per kg dari Rp 30.000 per kg.
Tidak hanya di Pulau Jawa, Satgas Saber Pangan di Sumatera Utara (Sumut) pun mencatat harga telur ayam di Pasar Gambir, Tebing Tinggi, Sumut dibanderol paling murah di angka Rp 27.200 per kg. Sementara di Pasar Seutui, Banda Aceh, Aceh harga telur ayam ras berada di Rp 28.500 per kg.
Untuk harga telur ayam ras di Pulau Kalimantan dan Papua memang masih berfluktuasi disebabkan salah satunya faktor biaya distribusi dari daerah sentra produsen telur. Di Pasar Kemuning, Pontianak, Kalimantan Barat harga telur Ayam Ras di kisaran Rp 33.000 per kg. Sementara di Pasar Snon Bukor, Raja Ampat, Papua Barat Daya harga telur Ayam ras di Rp 36.000 per kg.
Untuk diketahui, Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat produsen untuk telur ayam ras ditetapkan maksimal Rp 26.500 per kg. Sementara, Harga Acuan Penjualan (HAP) di tingkat konsumen maksimal Rp 30.000 per kg. Beleid yang mengatur ini ada di Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 529 Tahun 2024.
Komoditas telur ayam ras sendiri menurut BPS tercatat memiliki inflasi 5,79 persen di Februari 2026 dilihat secara tahunan (year-on-year). Sementara, andil telur ayam ras terhadap inflasi umum secara tahunan berada di level 0,06 persen.
Kendati demikian, telur ayam ras punya andil positif pula terhadap eskalasi Nilai Tukar Petani Subsektor Peternakan yang meningkat di Februari 2026 menjadi berada di level 103,62. Indeks harga yang diterima petani unggas pun melejit ke 133,63 di Februari 2026. Ini menjadi pencapaian indeks tertinggi dalam 3 tahun terakhir.
Di sisi lain, masih dalam rilis BPS, rerata harga telur ayam ras di tingkat konsumen secara nasional sampai minggu pertama Maret 2026 atau sebelum Idulfitri tercatat masih relatif melampaui HAP. Namun demikian, catatan BPS menunjukkan terdapat 53 kabupaten/kota yang mengalami penurunan Indeks Perkembangan Harga (IPH) telur ayam ras di pekan pertama Maret ini.
Terkait surplus telur ayam ras secara nasional turut didukung oleh Bapanas melalui Proyeksi Neraca Pangan. Produksi telur ayam ras dalam negeri selama setahun yang berkisar di 7,32 juta ton diestimasikan mampu menopang kebutuhan konsumsi nasional yang berada di angka 6,47 juta ton.
---------------------
Siaran Pers
Badan Pangan Nasional (Bapanas)
199/R-BAPANAS/III/2026
31 Maret 2026







