JAKARTA - Badan Pangan Nasional mempertegas arah kebijakan pengurangan susut dan sisa pangan sebagai agenda strategis nasional. Dalam expert meeting yang digelar bersama Indonesian Gastronomy Community (IGC) pada Sabtu (29/11/2025). Bapanas menekankan bahwa isu FLW hanya dapat ditangani secara efektif apabila seluruh rantai pangan dari produsen hingga konsumen mampu bergerak bersama melalui kolaborasi yang terukur dan berbasis perilaku.
Direktur Kewaspadaan Pangan Bapanas, Nita Yulianis, menyampaikan bahwa strategi nasional pengurangan FLW yang dikedepankan Bapanas mencakup tiga pilar besar yakni penguatan kebijakan dan program aksi yang mendorong perubahan perilaku, fasilitas kendaraan penyelamatan pangan, serta penyempurnaan sistem data informasi penyelamatan pangan agar dapat memberikan informasi yang akurat kepada publik.
“Tiga strategi utama ini menjadi fondasi gerakan kita. Mulai dari membangun awareness, mendorong aksi kolaboratif, hingga menghadirkan data yang mampu menunjukkan bahwa aksi pengurangan FLW ini benar-benar berjalan dan berdampak. Kita menghimpun ragam upaya di lapangan dalam satu platform agar ekosistemnya terkoneksi,” tambah Nita.
Nita juga menyoroti bahwa salah satu tantangan terbesar dalam penanganan FLW adalah membangun pemahaman masyarakat bahwa pangan sisa bukanlah sampah, melainkan potensi yang dapat dimanfaatkan kembali. Karena itu, ia menekankan pentingnya kampanye edukatif, aksi nyata, hingga perubahan perilaku konsumsi yang dilakukan secara bersama-sama lintas sektor.
“Kita perlu membangun awareness sejak awal, karena isu ini bukan semata teknis, tapi juga soal perilaku. Kalau kita bergerak bersama pemerintah, komunitas, pelaku usaha, serta akademisi maka pemanfaatan pangan bisa jauh lebih optimal sebelum akhirnya benar-benar menjadi sampah,” jelas Nita.
Dalam penutupnya Nita mengapresiasi banyaknya inisiatif yang berkembang dari berbagai kota dan provinsi, termasuk kontribusi komunitas, swasta, UMKM, dan lembaga sosial. Bapanas melihat semakin banyak gerakan lokal yang tumbuh secara organik, menunjukkan tingginya kesadaran terhadap isu pangan berkelanjutan.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Indonesian Gastronomy Community, Ria Musiawan, menegaskan bahwa isu pemborosan pangan bukan sekadar persoalan efisiensi produksi atau distribusi, melainkan menyangkut cara bangsa ini menghargai pangan sebagai bagian dari budaya dan keberlanjutan.
“Keberlanjutan pangan tidak hanya bergantung pada ketersediaan produksi, tetapi juga kemampuan kita mengelola konsumsi dan mengurangi limbah pangan secara konsisten. Setiap tahun jutaan pangan terbuang sia-sia, menimbulkan kerugian ekonomi dan tekanan terhadap lingkungan serta ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
Ria menjelaskan bahwa melalui pendekatan gastronomi yang bertanggung jawab, IGC mendorong perubahan perilaku konsumsi yang lebih bijak dan menghargai pangan sebagai bagian dari warisan budaya.
“Setiap makanan yang diproduksi, diolah, dan dikonsumsi harus dihargai sebagai wujud penghormatan terhadap budaya, alam, dan masa depan kita. Pertemuan ini dirancang untuk mengidentifikasi isu strategis, menajamkan narasi kebijakan, dan membuka peluang inovasi lintas sektor,” tambahnya.
Pertemuan ini menjadi ruang sinergi untuk memperkuat bukti-bukti praktik baik, memperluas jejaring kolaborasi, serta mendorong pembentukan strategi nasional pengurangan FLW yang lebih komprehensif. Bapanas menekankan bahwa keberhasilan gerakan ini sangat bergantung pada keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, terutama pemerintah daerah, komunitas gastronomi, dan pelaku usaha.
Melalui penguatan kebijakan, konsolidasi data, dan ragam inovasi lapangan, pemerintah berharap gerakan pengurangan food loss and waste mampu memberikan kontribusi nyata terhadap ketahanan pangan nasional, peningkatan efisiensi rantai pasok, serta pengurangan tekanan terhadap lingkungan.
Siaran Pers
Badan Pangan Nasional (Bapanas)
…/R-BAPANAS/XI/2025
29 November 2025







