BADAN PANGAN NASIONAL
Bapanas: Stok Cadangan Beras Pemerintah 4,6 Juta Ton, Ketersediaan Pangan Pokok Lainnya Juga Surplus dan Aman

JAKARTA — Pemerintah kembali memastikan stok pangan pokok strategis secara nasional masih dalam kondisi surplus dan aman. Tidak hanya stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang diperkuat pemerintah, jenis pangan pokok lainnya juga diproyeksikan masih memadai bagi konsumsi masyarakat Indonesia.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman yang juga Menteri Pertanian mengutarakan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPR RI, Jakarta pada Selasa (7/4/2026) bahwa CBP per hari ini kembali memecahkan rekor. Tidak hanya itu, berbagai komoditas pangan lain juga mencatatkan surplus.

"Cadangan beras hari ini, per tadi pagi tanggal 7 April 2026 mencapai 4,6 juta ton. Jadi kemarin 4,5 juta ton. Sekarang 4,6 juta ton. Ini tertinggi sepanjang sejarah. Pasokan bahan pangan utama lain seperti bawang merah, bawang putih, cabai, telur ayam, dan gula pasir, juga mencukupi," kata Amran. 

Dengan stok CBP 4,6 juta ton per hari ini kembali mengokohkan kesiapan Indonesia dalam menghadapi dampak konflik geopolitik dan juga fenomena El Nino. CBP 4,6 juta ton tercatat telah mengalami peningkatan eksponensial hingga 521 persen dibandingkan CBP pada April tahun 2024 yang kala itu berada di angka 740,7 ribu ton.

Sementara apabila dibandingkan terhadap stok CBP April tahun sebelumnya, stok CBP pada April tahun 2026 ini telah berhasil ditingkatkan hingga 90,1 persen. Stok CBP pada minggu pertama April tahun 2025 kala itu tercatat berada di angka 2,42 juta ton.

Tidak hanya beras, Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman memastikan pasokan ketersediaan pangan pokok strategis lainnya juga mencukupi dan tidak mengandalkan importasi. Produksi pangan dalam negeri masih dapat menopangnya.

"Ketersediaan komoditas pangan strategis nasional berada pada kondisi surplus dan relatif aman. Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional hingga Mei 2026, beberapa komoditas utama tercatat surplus antara lain beras 16,39 juta ton, jagung 4,3 juta ton, gula konsumsi 632 ribu ton, daging ayam 837 ribu ton, telur ayam 423 ribu ton dan komoditas lainnya" beber Amran.

Kalkulasi tersebut merupakan proyeksi ketersediaan sampai akhir Mei mendatang. Beras masih mencatatkan ketersediaan sampai akhir Mei di 16,39 juta ton dari ketersediaan awal 29,3 juta ton dikurangi kebutuhan konsumsi 12,9 juta ton. Jagung pakan pun masih surplus 4,3 juta ton dari total ketersediaan awal 11,49 juta ton dengan kebutuhan konsumsi 7,1 juta ton.

Sementara gula konsumsi, daging ayam ras, telur ayam ras, cabai, dan bawang merah dipastikan masih mencukupi dan tidak perlu adanya importasi. Hasil panen petani dan peternak Indonesia masih mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.

Dengan kondisi yang mengutamakan produksi dalam negeri tersebut, sektor pangan Indonesia optimis dapat lebih kondusif dalam menghadapi dampak El Nino dan potensi krisis pangan global. Kondisi harga pangan saat ini pun mulai melandai setelah Ramadan dan Idulfitri.

"Kondisi stok beras nasional di Indonesia dipastikan aman untuk 10 sampai 11 bulan ke depan. Di sisi lain, El Nino diperkirakan 6 bulan. Jadi insya Allah pangan kita aman. Selain krisis pangan global, Indonesia dihadapkan pada ancaman kemarau yang akan terjadi pada sebagian besar wilayah Indonesia yang kita sebut El Nino Godzilla" kata Amran.

"Tantangan pangan semakin kompleks dipengaruhi oleh dinamika geopolitik serta perubahan iklim yang berdampak pada produksi dan distribusi pangan. Akan tetapi secara umum harga pangan terkendali di saat bulan Puasa. Inflasi pangan menunjukkan tren penurunan, di mana inflasi pangan 2,5 persen turun menjadi 1,58 persen Maret 2026," ungkap Kepala Bapanas Amran. 

Dalam data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi pangan (volatile food) pada Maret 2026 tercatat sebesar 1,58 persen secara bulanan, menurun dari 2,50 persen pada bulan sebelumnya. Sementara secara tahunan, inflasi pangan juga turun menjadi 4,24 persen dari 4,64 persen.

Di forum yang sama, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau akrab dipanggil Titiek Soeharto meminta pemerintah bersiap sepenuhnya dalam menghadapi El Nino. Selain itu, ketegangan geopolitik juga harus dimitigasi agar tidak terjadi kenaikan harga pangan.

"Prediksi terjadinya El Nino 2026 menjadi alarm serius bagi kita semua, mengingat pengalaman sebelumnya menunjukkan dampak signifikan terhadap penurunan produksi pangan nasional, terutama padi. Di sisi lain, ketegangan geopolitik global berpotensi memicu gangguan rantai pasok global, lonjakan harga energi, serta kenaikan harga pangan dunia," beber Titiek.

"Kondisi ini tentu akan berdampak langsung terhadap biaya produksi dalam negeri, distribusi pangan, hingga stabilitas harga di tingkat konsumen. Komisi IV DPR RI memandang bahwa penguatan ketahanan pangan harus dilakukan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir dengan pendekatan yang tidak lagi business as usual. Jika pangan terganggu, maka stabilitas nasional juga akan ikut terancam," tambah dia.


-----------------------------

Siaran Pers

Badan Pangan Nasional (Bapanas)

212/R-BAPANAS/IV/2026

7 April 2026

BADAN PANGAN NASIONAL  
Sejak 25/01/2023
Kantor
Jalan Harsono RM No.3, Ragunan, Ps. Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
(021) 7807377
komunikasi@badanpangan.go.id
Media Sosial
Tautan Terkait
Kementerian Pertanian
Kementerian Kelautan dan Perikanan
Kementerian Kesehatan
Kementerian Perdagangan
Kementerian Komunikasi dan Informatika
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
Badan Pusat Statistik
Badan Informasi Geospasial
Perum BULOG
ID FOOD
Whistleblowing System

Jangan takut untuk lapor!

Cegah pelanggaran dengan melakukan pengaduan melalui Whistleblowing System. Hubungi:

Copyright © 2026 Badan Pangan Nasional. All Rights Reserved.