BANDUNG - Badan Pangan Nasional (Bapanas) terus memperkuat penganekaragaman pangan berbasis sumber daya lokal melalui pemanfaatan inovasi dan teknologi pengolahan. Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas pangan lokal, sekaligus memperkuat mata rantai pangan dari hulu hingga hilir agar berdampak langsung bagi petani dan pelaku usaha.
Pengembangan sorgum di Kabupaten Karawang dan Kota Bandung, menjadi salah satu contoh penguatan pangan lokal yang dibangun secara terintegrasi. Di wilayah ini, sorgum dikembangkan sebagai komoditas adaptif yang mampu diolah menjadi beragam produk pangan dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Deputi Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional, Andriko Noto Susanto, menyampaikan bahwa penguatan pangan lokal perlu ditopang oleh teknologi agar komoditas tidak berhenti sebagai bahan baku.
“Kita baru saja mengunjungi 2 tempat pengolahan sorgum di Karawang dan Bandung, pengembangan sorgum ini akan kita bangun dari hulu sampai hilir. Petani memproduksi, hasilnya diserap oleh UMKM, lalu diolah menjadi produk pangan siap konsumsi yang bernilai tambah,” ujar Andriko saat meninjau alat produksi di Bandung (30/12/25).
Sebagai bentuk dukungan konkret, Badan Pangan Nasional memfasilitasi pengolahan pascapanen melalui penyediaan alat perontok, penyosoh, penepung, pengering, hingga peralatan pendukung lainnya. Penguatan ini mendorong UMKM sorgum di Karawang mampu memproduksi berbagai olahan seperti bubur, kerupuk, tepung sorgum, hingga cookies berbahan sorgum.
Salah satu produk tersebut telah terserap ke dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di kawasan Karawang, yakni cookies sorgum yang disuplai melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Penyerapan ini menunjukkan bahwa pangan lokal olahan memiliki peluang nyata untuk masuk ke sistem penyediaan pangan bergizi berskala nasional.
“Ketika produk pangan lokal sudah bisa masuk ke MBG, itu artinya kualitas, keamanan, dan kontinuitasnya sudah memenuhi kebutuhan. Ini menjadi bukti bahwa pangan lokal bisa berperan langsung dalam pemenuhan gizi masyarakat,” kata Andriko.
Penguatan inovasi pangan lokal juga dikembangkan melalui dukungan teknologi lanjutan, salah satunya freeze dryer untuk produk berbasis sorgum. Teknologi ini memungkinkan produk seperti nasi sorgum, bubur, dan sari sorgum memiliki masa simpan lebih panjang dengan kandungan gizi yang tetap terjaga.
Akademisi dan peneliti pangan, Prof. Wisnu, menilai teknologi freeze drying berperan penting dalam meningkatkan daya saing pangan lokal. Menurutnya, produk pangan lokal sejatinya memiliki nilai nutrisi yang sangat baik, namun sering terkendala preferensi dan kepraktisan.
“Dengan teknologi freeze drying, nilai gizi tetap terjaga dan produk bisa disimpan lebih lama. Penyajiannya juga praktis, cukup diseduh dan siap dikonsumsi,” ujarnya.
Prof. Wisnu menambahkan bahwa produk sorgum hasil freeze drying juga berpotensi dikembangkan menjadi tepung sebagai bahan baku beras analog yang diperkaya nutrisi. Formulasi tersebut dapat ditingkatkan dengan penambahan protein nabati dari kacang-kacangan maupun rempah, sehingga menghasilkan pangan dengan nilai gizi yang lebih lengkap.
“Ini membuka ruang inovasi yang luas. Pangan lokal bisa diolah menjadi produk modern tanpa kehilangan identitas dan keunggulan nutrisinya,” kata Prof. Wisnu.
Badan Pangan Nasional memandang penguatan teknologi pangan lokal sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperluas konsumsi pangan yang beragam bergizi seimbang dan aman. Selain mendukung pasar komersial, produk olahan sorgum dan singkong juga diarahkan untuk mendukung suplai pangan ke SPPG dalam Program MBG.
Langkah ini sejalan dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Pangan Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal. Melalui inovasi, teknologi, dan penguatan UMKM, Badan Pangan Nasional mendorong pangan lokal menjadi fondasi ketahanan pangan yang berkelanjutan.
“Ini tentang ekonomi kerakyatan dan kedaulatan pangan. Seluruh rantai dikerjakan di dalam negeri dengan memaksimalkan potensi lokal dan teknologi yang sesuai kebutuhan masyarakat,” tutup Andriko.
—------------
Siaran Pers
Badan Pangan Nasional (Bapanas)
538/R-BAPANAS/XII/2025
31 Desember 2025







