JAKARTA — Upaya stabilisasi pasokan dan harga pangan yang dilakukan pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) dinilai mampu menjaga inflasi tetap terkendali selama Ramadan 2026, meskipun terjadi peningkatan permintaan masyarakat.
Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Ramadan 2026 tercatat sebesar 0,68 persen (month-to-month), lebih rendah dibandingkan periode Ramadan 2022 dan 2025. Sementara itu, inflasi pangan secara bulanan masih juga cukup terkendali.
Komponen volatile food pada Februari 2026 tercatat 2,50 persen (m-to-m) dengan andil 0,41 persen terhadap inflasi umum secara bulanan dan secara tahunan berada di level 4,64 persen, masih dalam rentang sasaran pemerintah sebesar 3 sampai 5 persen.
Mayoritas komoditas strategis seperti beras, cabai, bawang, daging, telur, dan minyak goreng mengalami andil terhadap inflasi umum kurang dari 1 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Fluktuasi harga juga masih berada dalam kisaran Harga Eceran Tertinggi (HET) dan Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan pemerintah. BPS turut pula memastikan fluktuasi harga pangan masih relatif aman.
"Beberapa hal yang perlu menjadi pemahaman kita bersama tentang inflasi Februari 2026, karena kalau kita lihat memang untuk harga volatile food dan harga pangan secara year on year masih relatif aman. Tentunya beberapa komoditas di beberapa kabupaten kota perlu mendapatkan perhatian, terutama cabai rawit, telur ayam ras, dan daging ayam ras," terang Kepala BPS Adininggar Widyasanti di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta pada Senin (3/3/2026).
Sepanjang Februari 2026, Bapanas mengintensifkan berbagai program stabilisasi pangan. Gerakan Pangan Murah (GPM) telah dilaksanakan sebanyak 1.586 kali di 291 kabupaten/kota pada 33 provinsi, meningkat 116,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Melalui program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP), hampir 10 ton cabai rawit dimobilisasi ke Jakarta dan Nusa Tenggara Barat, termasuk 4,3 ton cabai dari Sulawesi Selatan yang biaya distribusinya ditanggung pemerintah. Langkah ini diambil untuk merespons dinamika harga cabai di sejumlah wilayah.
Untuk komoditas beras, penyaluran program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) tahun 2025 oleh Perum Bulog telah mencapai 1,025 juta ton hingga akhir Februari 2026, dengan realisasi Februari sebesar 136 ribu ton. Pada 2026, SPHP beras akan berlanjut dan ditargetkan mencapai 828 ribu ton, disertai SPHP jagung pakan sebesar 242 ribu ton guna menjaga stabilitas harga di sektor perunggasan.
Menjelang Idulfitri 2026, pemerintah juga menyalurkan bantuan pangan beras dan minyak goreng kepada 33,2 juta keluarga penerima manfaat sebagai bagian dari stimulus perlindungan daya beli masyarakat.
Selain intervensi distribusi, pengawasan rantai pasok diperkuat melalui Satgas Sapu Bersih Pelanggaran Pangan yang telah melakukan pemantauan di 28.270 titik di seluruh Indonesia, termasuk pada level produsen, agen, distributor, grosir, hingga ritel.
Kenaikan Harga Relatif Terkendali
Langkah-langkah tersebut mendapat apresiasi dari akademisi IPB University sekaligus Pengamat Ekonomi Pangan, Prima Gandhi.
Ia memuji terkendalinya inflasi bahan pangan di tengah melonjaknya permintaan masyarakat dalam suasana Ramadan 2026. Kebijakan intervensi berbasis data dan pemantauan harian dinilai efektif meredam gejolak harga di tengah lonjakan konsumsi masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan dalam menjaga stabilitas pangan merupakan hasil kerja kolaboratif pemerintah, dalam hal ini Bapanas, Kementan, Kemendagri, Kemendag, Polri serta Pemda Provinsi dan Kabupaten/Kota.
Prima menyebut, kelompok volatile food memang mengalami kenaikan 2,50 persen (m-to-m) dengan andil 0,41 persen terhadap inflasi bulanan. Namun secara tahunan berada di level 4,64 persen. Ini masih dalam rentang yang dapat dikelola melalui penguatan pasokan dan distribusi.
“Kenaikan harga bahan makanan relatif sangat terkendali. Artinya pangan tidak menjadi penyumbang utama inflasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, mayoritas komoditas strategis seperti beras, cabai, bawang, daging, telur, dan minyak goreng berandil terhadap inflasi Februari kurang dari 1 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Fluktuasi harga pun masih berada dalam kisaran ketentuan harga yang ditetapkan pemerintah.
Khusus komoditas cabai, ia menilai kenaikan yang sempat terjadi masih dalam batas kewajaran. Merespons hal itu, Bapanas bersama pemerintah daerah segera menyalurkan tambahan pasokan dari sentra produksi utama di Jawa Tengah hingga Sulawesi Selatan ke berbagai pasar induk guna menekan potensi lonjakan harga.
“Dengan pengelolaan pasokan yang terkoordinasi dan respons kebijakan yang cepat, stabilitas harga diharapkan terjaga hingga Idulfitri. Daya beli masyarakat terlindungi, dan petani tetap memperoleh kepastian pasar,” pungkasnya.
-------------------------
Siaran Pers
Badan Pangan Nasional (Bapanas)
139/R-BAPANAS/III/2026
4 Maret 2026







