BADAN PANGAN NASIONAL
Indonesia Capai Swasembada Plus, Stok Pangan Nasional Aman Hadapi El Nino

JAKARTA — Predikat swasembada pangan yang diraih Indonesia dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan pencapaian yang berdasarkan kondisi nyata. Secara garis besar, swasembada yang sempurna tercapai tatkala kebutuhan konsumsi masyarakat dapat dipenuhi dari hasil petani dan peternak dalam negeri. 

Indonesia telah sampai pada eminensi tersebut dan ini tidak hanya diraih pada komoditas beras saja. Menurut Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman sekaligus Menteri Pertanian, swasembada beras dapat menjadi tolak ukur dikarenakan beras merupakan porsi terbesar dalam konsumsi sehari-hari masyarakat Indonesia.

"Swasembada itu artinya manakala suatu negara impor maksimal 10 persen dari kebutuhan. Negara ini tidak impor beras medium berarti swasembada sempurna. Kalau ada swasembada plus, ya ini, di tahun ini. Ini dicapai hanya dalam waktu 1 tahun dari rencana Bapak Presiden 4 tahun," beber Amran di Jakarta pada Kamis (16/4/2026).

"Presiden kita hebat. Capaian hari ini pangan aman. Kenapa yang dimaksud pangan ini, beras yang mendominasi? Itu karena lebih dari 50 persen itu beras, persentase beras kalau setiap kita makan. Tambah telur, juga sudah swasembada. Tambah daging ayam, sudah swasembada. Jagung pakan, bawang merah, dan cabai juga. Minyak goreng kita suplai dunia," kata Amran lagi.

Adapun dominasi konsumsi beras masyarakat tersebut selaras dari skor Pola Pangan Harapan (PPH) Indonesia tahun 2025 yang rutin dihitung Bapanas. Skor PPH tahun 2025 menunjukkan konsumsi padi-padian masyarakat Indonesia berada lebih dari 50 persen. 

Selanjutnya terdiri dari 12,7 persen yang merupakan konsumsi pangan hewani dan 12,4 persen minyak dan lemak. Sayur dan buah 6,8 persen, gula 4 persen, dan selebihnya kacang-kacangan, umbi-umbian, buah/biji berminyak, dan lain sebagainya.

Berpijak dari itu, Amran percaya diri Indonesia mampu menghadapi dampak apabila nanti terjadi fenomena El Nino. Ia menyadur optimisme tersebut berkat kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menaruh perhatian besar terhadap penguatan sektor pangan nasional.

"Krisis pangan dunia karena ada El Nino, kita bisa hadapi. Indonesia alhamdulillah, negara lain waswas. Itu berkat kebijakan Bapak Presiden. Ingat, kita sudah swasembada protein dan karbohidrat. Protein Indonesia sudah cukup, bisa ekspor. Kemudian karbohidrat juga swasembada," urai Amran.

Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog pun semakin berprogres secara signifikan. Dengan mengandalkan penyerapan setara beras dari produksi beras dalam negeri, stok CBP saat ini kembali tembus rekor tertinggi sepanjang sejarah.

"Alhamdulillah, stok Bulog 4,8 juta ton. Maksimal 1 minggu lagi bisa mencapai 5 juta ton. Ini adalah capaian yang tertinggi dan tidak pernah terjadi. Ini hasil kerja keras kita semua atas gagasan Bapak Presiden Prabowo," ungkap Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman.

Dalam catatan Bapanas, total stok beras yang dikelola Bulog per 16 April telah mencapai 4,8 juta ton yang terdiri dari CBP 4,78 juta ton dan komersial 19,9 ribu ton. Sementara realisasi pengadaan setara beras dari produksi dalam negeri telah mencapai 2,04 juta ton.

Capaian positif lainnya dapat dilihat pada torehan Nilai Tukar Petani (NTP) Tanpa Perikanan secara nasional yang sejak Juli 2024 terjaga diatas 120. Indeks NTP Tanpa Perikanan yang tertinggi dalam 7 tahun terakhir tercapai di Desember 2025 dan Februari 2026 yang sama-sama berada di 126,11.

Sementara swasembada karbohidrat dan protein ada pada komoditas beras, telur ayam ras, dan daging ayam serta jagung pakan. Keempat komoditas tersebut merupakan sumber karbohidrat dan protein serta pendukung produksi sumber protein hewani. 

Pencapaian swasembada karbohidrat dan protein tersebut termaktub dalam Proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2025. Untuk beras sepanjang tahun 2025 tidak ada impor karena produksi setahun mencapai 34,69 juta ton telah dapat memenuhi kebutuhan konsumsi tahunan sebesar 31,16 juta ton.

Sementara untuk daging ayam ras dan telur ayam ras juga swasembada. Sepanjang 2025 tidak ada importasi karena produksi dalam negeri masih melampaui kebutuhan konsumsi nasional. Produksi daging ayam ras 4,29 juta ton dengan konsumsi setahun 4,12 juta ton. Untuk produksi telur ayam ras 6,54 juta ton dengan konsumsi setahun 6,47 juta ton.

Kondisi tanpa impor juga ada di jagung pakan. Setelah tahun 2024 sempat ada impor jagung pakan, sepanjang 2025 dipastikan tidak ada impor lagi. Produksi jagung pakan kadar air 14 persen sepanjang 2025 berada di 16,16 juta ton dengan kebutuhan konsumsi 15,23 juta ton.


------------------

Siaran Pers

Badan Pangan Nasional (Bapanas)

234/R-BAPANAS/IV/2026

16 April 2026

BADAN PANGAN NASIONAL  
Sejak 25/01/2023
Kantor
Jalan Harsono RM No.3, Ragunan, Ps. Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
(021) 7807377
komunikasi@badanpangan.go.id
Media Sosial
Tautan Terkait
Kementerian Pertanian
Kementerian Kelautan dan Perikanan
Kementerian Kesehatan
Kementerian Perdagangan
Kementerian Komunikasi dan Informatika
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
Badan Pusat Statistik
Badan Informasi Geospasial
Perum BULOG
ID FOOD
Whistleblowing System

Jangan takut untuk lapor!

Cegah pelanggaran dengan melakukan pengaduan melalui Whistleblowing System. Hubungi:

Copyright © 2026 Badan Pangan Nasional. All Rights Reserved.