JAKARTA – Badan Pangan Nasional/National Food Agency (Bapanas) menegaskan bahwa ketersediaan pangan nasional pasca-Idulfitri 1447 Hijriah berada dalam kondisi aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sepanjang tahun 2026. Pemerintah terus berkomitmen memperkuat arus distribusi pangan guna menjaga stabilitas harga, terutama dalam memitigasi dampak dinamika geopolitik global di Timur Tengah.
Hal tersebut diungkapkan Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi Daerah yang diselenggarakan Kemendagri di Jakarta, Senin (6/4/2026).
“Jadi ini pun kami sampaikan mengulangi lagi bahwa ke depan masih sangat-sangat aman daripada stok maupun ketersediaan pangan kita,” ujar Ketut Astawa.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sepanjang Ramadan 1447 H, pasokan pangan terpantau relatif stabil. Kondisi tersebut tercermin dari angka inflasi nasional pada Maret 2026, di mana inflasi tahunan (year-on-year) terkendali di level 3,48%, sementara inflasi bulanan (month-to-month) melandai dari 0,68% pada Februari menjadi 0,41% pada Maret 2026.
Secara spesifik, inflasi pada komponen harga bergejolak (volatile food) atau inflasi pangan tercatat sebesar 4,24% (yoy). Jika dilihat secara bulanan, komponen ini menunjukkan tren positif dengan penurunan signifikan dari 2,50% pada Februari 2026 menjadi 1,58% (mtm) pada Maret 2026.
Sebelumnya, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menyebut stok ketersediaan pangan nasional tahun 2026 dalam kondisi aman, cukup untuk mengantisipasi dampak kemarau dan geopolitik global.
"(Untuk) sektor pangan, alhamdulillah hari ini tertinggi sepanjang sejarah. Stok kita 4,3 juta ton. Tidak pernah terjadi. Tahun lalu maksimal 4,2 juta ton. Hari ini 4,3 juta ton. Bulan depan (bisa mencapai) 5 juta ton. Kapasitas gudang 3 juta ton, kita sewa gudang 2 juta ton kapasitasnya. Ini selesai, pangan selesai," kata Amran di Jakarta, Senin (30/3/2026).
Lebih lanjut, Deputi Ketut Astawa menjelaskan bahwa Bapanas secara intensif melakukan koordinasi dengan para pemangku kepentingan untuk menjaga komponen biaya logistik, termasuk biaya kemasan dan distribusi. Pihaknya telah mendapatkan kepastian dari asosiasi penyedia jasa transportasi terkait stabilitas tarif angkutan pangan.
“Terkait dengan transportasi, truk dan lain hal sebagainya, tidak akan mengalami kenaikan sepanjang BBM bersubsidi tidak naik. Jadi agak aman kita dari sisi transportasinya, karena kami sudah mengumpulkan para asosiasi, dan mereka meyakinkan sekali bahwa sepanjang tidak ada kenaikan daripada BBM bersubsidi maka tidak ada kenaikan biaya transportasi, dan mudah-mudahan ini bisa kita jaga,” pungkasnya.
Sebagai langkah konkret menjaga daya beli masyarakat, Bapanas terus mendorong Kerjasama Antar Daerah (KAD) serta terus menggulirkan berbagai program aksi strategis, di antaranya penyaluran Beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) sebesar 828 ribu ton, penyaluran Bantuan Pangan (Banpang) berupa beras dan minyak goreng bagi 33,2 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM), serta pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) yang dilakukan secara masif di berbagai wilayah Indonesia.
-------------------
Siaran Pers
Badan Pangan Nasional (Bapanas)
209/R-BAPANAS/IV/2026
6 April 2026







