BADAN PANGAN NASIONAL
Jaga Harga Ayam Hidup Usai Idulfitri, Bapanas Upayakan Intervensi dengan Libatkan Multipihak

JAKARTA — Untuk mengatasi kondisi harga ayam hidup yang mulai memperlihatkan pelemahan usai Ramadan dan Idulfitri, pemerintah akan bersinergi dengan segenap pelaku usaha yang bergerak di bibit ayam/day old chick (DOC) dan juga pakan. Peternak unggas tidak boleh terdampak lebih jauh sebagai salah satu implikasi fase pasca-idulfitri ini.

"Untuk ayam hidup, sebagaimana arahan Bapak Menteri Pertanian sekaligus Badan Pangan Nasional (Bapanas), kita akan memanggil DOC maupun pakan. Tentu juga kita akan memanggil pemain-pemain besarnya, agar bisa mengendalikan harga," kata Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa di Pasar Menteng Pulo, Jakarta pada Kamis (9/4/2026).

"Jangan sampai peternak kita yang kecil terganggu oleh harga ayam yang turun. Tentu kita akan terus bergerak karena memang ini fasenya pasti akan ada penurunan setelah habis Lebaran," beber Ketut.

Dalam pantauan Bapanas, rerata harga ayam hidup di beberapa daerah tercatat mengalami depresiasi harga di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat produsen yang telah ditetapkan pemerintah. HAP ayam hidup di tingkat produsen ditetapkan maksimal di Rp 25.000 per kilogram (kg).

Sumatera Selatan terpantau di Rp 21.938 per kilogram (kg) atau 12,25 persen di bawah HAP produsen. Namun harga ayam hidup di Sulawesi Selatan terpantau masih cukup tinggi di Rp 27.409 per kg atau 9,64 persen melampaui HAP. Untuk rerata harga ayam hidup secara nasional berada di kisaran Rp 24.076 per kg atau 3,7 persen berada tipis di bawah HAP produsen.

Di samping itu, Badan Pusat Statistik (BPS) dalam rilis inflasi bulan Maret menyebutkan daging ayam ras menjadi komoditas komponen harga bergejolak dengan andil tertinggi, baik inflasi secara bulanan maupun tahunan. Sampai pekan terakhir Maret, Indeks Perkembangan Harga (IPH) daging ayam ras memang tercatat cukup siginifikan dengan 237 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan.

Namun demikian, pergerakan kenaikan IPH daging ayam ras sampai awal April mulai mereda. Dari sebelumnya ada kenaikan IPH di 237 kabupaten/kota, kemudian menurun menjadi 148 kabupaten/kota. Begitu pula jumlah daerah dengan penurunan IPH daging ayam ras yang telah meningkat menjadi 125 kabupaten/kota.

Pemerintah, menurut Deputi Bapanas Ketut, ingin terus menjaga keseimbangan harga mulai dari hulu sampai hilir. Prinsip kewajaran harga untuk setiap lini rantai pasok penting untuk diimplementasikan.

"Tapi harus berimbang. Tatkala di hulunya menurun, tentu kita harapkan di hilir ini juga harus turun. Jangan sampai di hulunya turun, kemudian hilirnya masih harga tinggi. Nah ini kasihan yang peternaknya," ucap Ketut.

Pemerintah berharap dengan sinergi erat bersama-sama para pelaku usaha yang terkait dapat mewajarkan kembali harga produk unggas. Kepastian penyerapan atau offtake menjadi hal penting yang harus dipastikan pemerintah.

"Oleh karena itu, kita akan tata, kita akan kumpulkan kembali. Kita akan koordinasi dengan para peternak, pelaku usaha besar, yang kita harapkan bisa meng-offtake daripada harga-harga yang ada di peternak, sehingga harganya mulai wajar," pungkas Ketut.

Selain itu, pemerintah telah menyiapkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan sebagai upaya agar setidaknya dapat menekan biaya pokok produksi para peternak.

Adapun untuk program SPHP jagung pakan tahun 2026, anggaran yang telah disiapkan pemerintah sebanyak Rp 678 miliar. Total alokasi salur mencapai 242 ribu ton untuk membantu peternak unggas dan nonunggas dalam memperoleh jagung pakan berkualitas dengan harga lebih terjangkau.

Terpisah, Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman yang juga Menteri Pertanian pernah menjabarkan solusi jangka panjang dan pendek dalam mengatasi fluktuasi harga daging ayam ras. Amran pastikan pemerintah telah mulai mengimplementasikan solusi tersebut secara progresif.

“Solusi permanennya adalah membangun pabrik-pabrik pakan dan DOC, itu milik pemerintah. Jangka pendek kami akan panggil tolong pabrik pakan. Jangan naikkan harga,” sebut Amran.

Sebagai bukti program pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berdampak positif terhadap produsen pangan dalam negeri dapat dilihat pada pergerakan indeks harga yang diterima petani padi dan peternak unggas. 

Dalam data BPS, indeks harga yang diterima petani padi selalu berada lebih dari 140 poin sejak Juli 2025 sampai saat ini. Indeks terbaru di Maret 2026 berada di 144,52 dan masih lebih tinggi dibandingkan Maret 2025 yang berada di 137,94.

Sementara untuk indeks harga yang diterima peternak unggas di Maret 2026 yang berada di 138,19 menjadi yang tertinggi sejak tahun 2023. Jenis indeks ini terus bertumbuh setelah pada Desember 2025 berada di angka 129,68.


-------------------

Siaran Pers

Badan Pangan Nasional (Bapanas)

222/R-BAPANAS/IV/2026

10 April 2026

BADAN PANGAN NASIONAL  
Sejak 25/01/2023
Kantor
Jalan Harsono RM No.3, Ragunan, Ps. Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
(021) 7807377
komunikasi@badanpangan.go.id
Media Sosial
Tautan Terkait
Kementerian Pertanian
Kementerian Kelautan dan Perikanan
Kementerian Kesehatan
Kementerian Perdagangan
Kementerian Komunikasi dan Informatika
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
Badan Pusat Statistik
Badan Informasi Geospasial
Perum BULOG
ID FOOD
Whistleblowing System

Jangan takut untuk lapor!

Cegah pelanggaran dengan melakukan pengaduan melalui Whistleblowing System. Hubungi:

Copyright © 2026 Badan Pangan Nasional. All Rights Reserved.