JAKARTA – Menyambut Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) memastikan kesiapan pemerintah untuk melayani masyarakat. Tradisi mudik yang memacu mobilitas masyarakat juga perlu disiapkan sejak dini.
Untuk itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno memastikan kesiapan kementerian/lembaga yang terkait dalam menyambut Ramadan dan Idulfitri di tahun ini. Ia berharap mudik nanti pun tidak menurunkan produktivitas kerja serta dapat terlaksana secara sehat, aman, dan lancar.
"Semoga mudik kali ini produktif, tetap produktif, sehat, aman dan lancar. Yang lebih penting lagi adalah bagaimana mengimplementasikannya dan masih banyak hal-hal yang tentu saja harus kita kembangkan lagi di lapangan. Mohon koordinasi di lapangan yang lebih intens antar kementerian/lembaga," pinta Menko Pratikno dalam Rapat Persiapan Hari Raya dan Libur Idulfitri 1447 Hijriah di Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Tradisi mudik, menurut Pratikno, juga akan membawa efek perekonomian bagi daerah-daerah tujuan pemudik. Daya beli dan konsumsi masyarakat yang cenderung meningkat patut terus dijaga oleh pemerintah.
"Semoga juga membawa dampak ekonomi yang positif bagi daerah. Ini (karena) ada belanja masyarakat yang meningkat selama Idulfitri," jelas Menko PMK Pratikno.
Terkait potensi peningkatan permintaan masyarakat tersebut, Badan Pangan Nasional (Bapanas) sebagai penjaga kestabilan pangan pokok strategis di hilir, telah menyiapkan berbagai program. Rencananya pelaksanaan program-program tersebut akan mulai dikebut dalam waktu dekat ini.
"Kami di Bapanas, sesuai arahan Kepala Bapanas Bapak Andi Amran Sulaiman sudah menyiapkan program intervensi pangan, utamanya untuk menjaga kestabilan pangan pokok strategis bagi masyarakat," terang Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas Maino Dwi Hartono yang hadir dalam persamuhan hari ini.
Dalam paparan Bapanas, dilaporkan telah terdapat persetujuan Anggaran Belanja Tambahan (ABT) untuk pelesatan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras dan jagung pakan. Rencananya kedua program SPHP tersebut akan dimulai pada Maret yang merupakan masa HBKN Ramadan dan Idulfitri.
"Di Maret, SPHP beras kita lanjutkan kembali, tapi penyalurannya akan selektif karena harus mengutamakan daerah yang defisit dan tidak pada daerah yang sedang ada panen. Sampai akhir Februari ini, SPHP beras juga masih ada dengan anggaran tahun lalu," urai Maino.
Detailnya untuk program SPHP beras tahun 2026 telah dialokasikan dengan anggaran sebesar Rp 4,97 triliun. Ini setara dengan biaya subsidi harga yang diberikan pemerintah untuk total beras SPHP yang dibeli masyarakat sejumlah 828 ribu ton.
Sementara untuk program SPHP jagung pakan tahun 2026, anggarannya sebesar Rp 678 miliar. Dengan anggaran pemerintah sebesar itu, maka target penyaluran SPHP jagung pakan ke para peternak dapat mencapai total 242 ribu ton.
Tentu ini merupakan angin segar karena target SPHP jagung di tahun ini meningkat drastis hingga hampir lima kali lipat dibandingkan realisasi tahun sebelumnya. Adapun penyaluran SPHP jagung tahun 2025 berada di angka 51,2 ribu ton yang menyasar ke 3.578 peternak ayam ras petelur di 17 provinsi.
Program SPHP jagung sendiri dinilai dapat membantu peternak layer mandiri memperoleh pakan dengan harga yang lebih terjangkau. Program ini dapat menjadi penopang kestabilan harga telur ayam dan daging ayam ras karena jagung termasuk sumber pakan ternak unggas yang banyak digunakan di Indonesia.
Dalam berbagai kesempatan, Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman yang juga Menteri Pertanian mengutarakan visinya agar stabilitas pangan pada Ramadan dan Idulfitri tahun ini sebaik seperti saat Natal dan Tahun Baru (Nataru) sebelumnya. Masyarakat tidak boleh merasakan gejolak harga pangan yang keras.
"Sekarang ini, kita mau lihat kemarin Nataru, alhamdulillah, tidak ada gejolak (harga pangan) yang terlalu tinggi. Itu tujuan pemerintah. Kita mau seperti itu," ungkap Amran.
"Target pemerintah itu adalah konsumen, apalagi Idulfitri dan Ramadan, masyarakat itu harus menikmati harga yang baik, dibandingkan sebelumnya. Tidak boleh harga naik," tegas Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman.
Fluktuasi harga pangan dapat dilihat pada perkembangan inflasi komponen harga bergejolak (volatile food) atau inflasi pangan. Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengumumkan inflasi pangan secara tahunan sebelum momen Ramadan di tahun ini berada cukup baik di angka 1,14 persen.
Torehan di tahun 2026 ini masih lebih stabil dibandingkan inflasi pangan sesaat sebelum Ramadan pada tahun 2023 dan 2024. Kala itu, inflasi pangan secara tahunan di Februari 2023 tercatat di 7,62 persen. Kemudian inflasi pangan di Februari 2024 berada di 8,47 persen.
-------------
Siaran Pers
Badan Pangan Nasional (Bapanas)
077/R-BAPANAS/II/2026
13 Februari 2026







