BADAN PANGAN NASIONAL
Mendagri Tito Apresiasi Gesitnya Bapanas dan Bulog Atasi Logistik Pangan di Bencana Sumatera, Pinta Terus Perkuat Stok

JAKARTA – Aspek ketersediaan logistik pangan memegang peran krusial dalam tahapan penanganan dan pemulihan pascabencana. Pemerintah senantiasa memastikannya agar masyarakat terdampak bencana tidak sampai kesulitan. Terlebih stok beras secara nasional sangat memadai yang bersumber dari hasil produksi dalam negeri.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian selaku Ketua Tim Pelaksana Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera mengungkapkan pemerintah telah mampu mengatasi logistik pangan. Ia berharap ketersediaan stok pangan di Provinsi Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) dapat terus terjaga.

"Yang perlu atensi di daerah highlands ini adalah mereka harus mengeluarkan produk mereka, karena mereka ada produk kopi, cabai, itu terus (berproduksi), meskipun sudah bencana, tetap panen. Nah ini mohon bantuan Bapak Menteri Pertanian. Sekaligus mohon, di daerah ini diperkuat stoknya," kata Menteri Tito dalam rapat koordinasi di Jakarta pada Senin (26/1/2026).

"Karena (masyarakat) di daerah ini tidak pernah pengalaman punya bencana yang besar. Biasanya logistik hanya 2 sampai 3 hari, mengharapkan nanti ada lalu lintas lancar. Begitu terputus jalan, pengalaman di Aceh Tengah Takengon, hari ketiga sudah hampir kekurangan logistik dan masyarakat mulai panik. Tapi untung cepat, waktu itu dari Bulog, Bapanas, BNPB, TNI, Polri, semua bergerak via udara," ungkap Tito.

Sebagaimana diketahui, sejak terjadinya bencana di Aceh, Sumbar, dan Sumut berbagai program bantuan pangan digulirkan secara eksponensial pemerintah bersama Perum Bulog. Sampai 25 Januari, beras sebanyak 54,8 ribu ton dan minyak goreng 6,7 ribu kiloliter telah tersalurkan.

Rinciannya melalui program bantuan pangan dengan realisasi total 3 provinsi sebanyak 33,3 ribu ton beras dan 6,7 ribu kiloliter minyak goreng. Masyarakat di Aceh telah terdistribusikan beras 10,2 ribu ton beras dan 2 ribu liter minyak goreng. Sementara di Sumut telah tersalurkan 16,3 ribu ton beras dan 3,3 ribu kiloliter minyak goreng. Terakhir, masyarakat Sumbar telah menerima 6,8 ribu ton beras dan 1,35 ribu kiloliter minyak goreng.

Di samping itu, ada pula dalam bentuk program Cadangan Beras Pemerintah (CBP) bencana alam (bencal). Sampai 25 Januari total sebanyak 21,4 ribu ton beras telah tersalurkan. Aceh sebanyak 15,3 ribu ton, Sumut 5,1 ribu ton, dan Sumbar 1,1 ribu ton.

Selanjutnya, Mendagri Tito turut menuturkan masyarakat di highlands atau dataran tinggi membutuhkan beras dan minyak goreng karena masih belum termasuk yang dapat diproduksi. Sementara untuk lowlands atau dataran rendah, pemerintah akan tetap menjaga stok dan pergerakan inflasi di daerah tersebut.

"Mohon kami menyarankan untuk diperkuat stoknya tiga bulan, (terutama) yang tidak bisa mereka produksi, terutama adalah beras di daerah gunung, itu sama yang minyak goreng misalnya. Di daerah lowlands yang harus di atasi betul adalah Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara. Kemudian Bireuen dan Pidie Jaya," urai Tito.

"Kemudian, mohon dukungan Bapak Kepala Bapanas dan Bapak Dirut Bulog untuk stok tiga daerah di gunung tadi. (Kabupaten) Bener Meriah, Gayo Luwes dan di Aceh Tengah, (stok) tiga bulan. Dan satu lagi adalah di Nias, karena Nias sekarang, hampir semua daerahnya naik semua harganya. Gunungsitoli dari 98 kota, itu tertinggi. Sepuluh koma sekian persen adalah Gunungsitoli inflasinya," tambah Tito.

Menanggapi itu, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman yang juga Menteri Pertanian sepakat ketersediaan stok di 3 provinsi terdampak bencana harus terus diperkuat. Pihaknya memastikan ketercukupan stok bahkan dinilai cukup sampai 6 bulan ke depannya.

"Bahan pangan kami siapkan di lapangan. Itu bisa sampai 6 bulan ke depan. Untuk pangan, khususnya beras di lapangan. Insya Allah, khusus untuk pangan aman, itu bisa tertutupi 6 bulan ke depan," jelas Amran.

Dalam catatan Bapanas, per 27 Januari total keseluruhan stok beras yang dikelola Bulog pada 3 provinsi tersebut totalnya masih terdapat 103,2 ribu ton. Ini terdiri dari Aceh 65,3 ribu ton. Kemudian Sumut 27,7 ribu ton, dan Sumbar 10,2 ribu ton.

"Dan sekarang, juga sudah panen. Jadi (daerah) yang tidak kena bencana ini, sekarang (mulai) panen. Bulog juga sudah mulai menyerap di lapangan. Jadi kalau pangan, insya Allah tidak ada masalah ke depan," kata Amran lagi.

Patut diketahui, realisasi penyerapan setara beras asal produksi dalam negeri yang Bulog laksanakan di Januari 2026 telah melampaui realisasi penyerapan di bulan yang sama dalam 5 tahun terakhir. Per 26 Januari total serapan Bulog telah menyentuh angka 28,3 ribu ton yang terdiri dari CBP 25,7 ribu ton dan komersial 2,6 ribu ton.

"Yang terakhir, kami sudah mengirim bantuan Kementan dan Bapanas Peduli, tiga kapal ke Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Hanya saja, yang agak berat adalah yang kurang lebih (lahan sawah) 32 ribu hektare yang berat, tapi insya Allah kami bisa selesaikan tahun ini," ungkap Amran.

"Kami selesaikan dulu yang 90 persen, sehingga masyarakat, petani di sana bisa berproduksi agar pangannya tidak langka ke depan," pungkas Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman.


--------------

Siaran Pers

Badan Pangan Nasional (Bapanas)

034/R-BAPANAS/I/2026

27 Januari 2026

BADAN PANGAN NASIONAL  
Sejak 25/01/2023
Kantor
Jalan Harsono RM No.3, Ragunan, Ps. Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
(021) 7807377
komunikasi@badanpangan.go.id
Media Sosial
Tautan Terkait
Kementerian Pertanian
Kementerian Kelautan dan Perikanan
Kementerian Kesehatan
Kementerian Perdagangan
Kementerian Komunikasi dan Informatika
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
Badan Pusat Statistik
Badan Informasi Geospasial
Perum BULOG
ID FOOD
Copyright © 2026 Badan Pangan Nasional. All Rights Reserved.