JAKARTA — Harga gula konsumsi yang berfluktuasi selama April lalu telah disikapi pemerintah dengan mengajak kolaborasi berbagai pihak untuk eskalasi langkah stabilisasi. Apalagi Mei ini merupakan awal musim giling tebu, sehingga produksi bulanan dapat meningkat dan pasokan ke pasaran juga bisa lebih deras.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan telah berkomitmen bersama Asosiasi Pengusaha Gula Indonesia (APGI) untuk kolaborasi melaksanakan stabilisasi harga gula konsumsi. Ketersediaan gula konsumsi di Mei pun diproyeksikan akan terus meningkat.
"Gula sudah 2 kali kita rapatkan dan terakhir kemarin kami kirim surat ke APGI untuk ikut menstabilkan harga. Kita berharap Mei ini sudah mulai musim giling. Nah dengan Mei ini mulai musim giling, relatif kita bisa menstabilkan harga," ujar Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa, Jumat (8/5/2026).
Dalam warkatnya ke APGI, Bapanas mendorong peran aktif untuk membantu pemerintah memastikan ketersediaan pasokan gula konsumsi yang merata. Stabilitas harga juga agar mengacu Harga Acuan Penjualan (HAP) sesuai Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 12 Tahun 2024, yakni Rp 17.500 per kilogram (kg) untuk wilayah selain Indonesia Timur dan 3TP (Tertinggal, Terdepan, Terluar, dan Perbatasan) dan Rp 18.500 per kg untuk wilayah Indonesia Timur dan 3TP.
"Dan saya sudah tekankan sekali lagi ke APGI, Asosiasi Pengusaha Gula Indonesia, untuk ikut menstabilkan harga gula," tambah Ketut.
Pemerintah memproyeksikan produksi bulanan gula konsumsi di Mei dapat melonjak hingga 374 persen. Dari produksi bulanan di April diperkirakan sekitar 58,3 ribu ton, sementara produksi bulanan Mei dapat mencapai hingga 276,4 ribu ton. Prediksi ini berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Gula Konsumsi yang diampu Bapanas.
Ini juga selaras dengan laporan Kementerian Pertanian (Kementan) dalam rapat stabilisasi gula yang dihelat Bapanas akhir April lalu. Berkat optimalisasi luas tambah tanam tebu, maka diprediksi produksi gula konsumsi nasional dalam setahun ini dapat mencapai 3 juta ton. Musim giling tebu pun akan dimulai pada pertengahan Mei ini di sebagian besar wilayah Jawa.
Adapun stok gula di APGI terpantau sampai akhir April berada di sekitar 100 ribu ton yang tersebar di seluruh daerah. Sementara stok gula di Perum Bulog sampai akhir April terlaporkan berada di angka 2,6 ribu ton tersebar di seluruh Indonesia. Bulog memastikan akan menyalurkan stok gula ke masyarakat yang sebagian besar melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM) yang diselenggarakan Bapanas maupun pemerintah daerah.
Untuk itu, Bapanas memastikan akan berupaya secara kolaboratif melalui optimalisasi distribusi gula konsumsi ke seluruh wilayah Indonesia. Fokus distribusi stok ada akan diutamakan pada wilayah yang mengalami fluktuasi harga gula konsumsi.
"Tapi sebelum musim giling, tentu kita harus optimalisasi stok-stok yang ada dan tentu melibatkan semua stakeholder. Tentu Bapanas melibatkan semua pihak, termasuk pemerintah daerah untuk ikut memantau. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini, kita bisa kembali menstabilkan harga, tapi yang penting pasokannya relatif bagus dulu," pungkas Deputi Bapanas Ketut.
Sebelumnya, fluktuasi harga gula konsumsi turut menjadi perhatian Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Dalam Negeri Tomsi Tohir pada rapat inflasi mingguan yang digelar secara daring (5/5/2026). Ia menyebutkan ada 193 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) gula sampai pekan terakhir April lalu.
"(IPH) minyak goreng naik di 240 kabupaten kota. Bawang merah 227. Gula pasir 193. Cabai merah 148. Beras yang kita sudah swasembada, apakah sudah dilakukan upaya ke 116. (Sementara pangan) yang lain trennya menurun," ungkap Sekjen Tomsi.
"Ini adalah kewajiban kita untuk mengatasinya, jadi naik 100 rupiah pun tidak boleh terjadi harusnya. Tetap kita berupaya sedikit saja di atas harga HET (Harga Eceran Tertinggi) akan kita perjuangkan (untuk dikendalikan). Ini merupakan prinsip dasar kita yang harus kita pegang teguh," imbuh dia.
Terkait kenaikan IPH gula konsumsi pada 193 daerah per minggu kelima April tersebut, dalam analisis Bapanas masih terdapat 36 daerah yang memang ada kenaikan IPH tapi tidak melewati HAP tingkat konsumen yang ditetapkan antara Rp 17.500 sampai Rp 18.500 per kg. Sementara daerah dengan penurunan IPH gula konsumsi mulai sedikit bertambah dari 29 daerah menjadi 31 daerah pada akhir April lalu.
-----------------
Siaran Pers
Badan Pangan Nasional (Bapanas)
284/R-BAPANAS/V/2026
8 Mei 2026







