Lamongan – Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) terus mendorong pengembangan pangan lokal melalui penguatan peran UMKM. Hal ini terlihat saat Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan NFA, Andriko Noto Susanto, bersama Direktur Pengawasan Penerapan Standar Keamanan dan Mutu Pangan NFA, Hermawan, meninjau rumah produksi “Sueer” Sorgum di Desa Kalikacang, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan, Rabu (10/9).
“Sorgum adalah komoditas yang sangat potensial. Tidak hanya sebagai sumber pangan alternatif karbohidrat, tetapi juga memiliki nilai gizi tinggi dan bisa diolah menjadi produk modern yang diminati generasi muda. UMKM seperti Sorgum Sueer membuktikan bahwa inovasi lokal mampu memperkuat diversifikasi pangan kita,” ujar Andriko.
Andriko menegaskan, dukungan terhadap UMKM pangan lokal tidak hanya berhenti pada fasilitasi alat produksi, tetapi juga menyentuh aspek peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Menurutnya, pelatihan dan pendampingan berkelanjutan menjadi kunci agar pelaku usaha mampu berinovasi sesuai dengan kebutuhan pasar. “Kita ingin UMKM pangan lokal memiliki pemahaman yang lebih baik tentang standar mutu, keamanan pangan, hingga strategi pemasaran. Dengan begitu, produk mereka tidak hanya diterima di pasar lokal, tetapi juga berpotensi masuk ke pasar nasional bahkan internasional,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa pengembangan sorgum sebagai pangan alternatif sejalan dengan arah kebijakan diversifikasi konsumsi. “Indonesia punya kekayaan pangan yang sangat beragam. Sorgum adalah salah satu contoh nyata bagaimana potensi lokal bisa menjadi solusi menghadapi tantangan ketergantungan pada satu komoditas utama. Bila UMKM seperti Sorgum Sueer bisa kita perkuat, ini akan membuka jalan bagi terciptanya kemandirian pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat sekitar,” ungkap Andriko.
Direktur Pengawasan Penerapan Standar Keamanan dan Mutu Pangan NFA, Hermawan, menambahkan bahwa keberhasilan UMKM dalam menghadirkan produk berbasis sorgum menunjukkan adanya peluang besar untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi petani. “Kami melihat varian produk Sueer semakin beragam, mulai dari mie sorgum, ciki, bubur instan, hingga kecap dan gula sorgum. Semua ini menunjukkan bagaimana pangan lokal bisa bertransformasi menjadi produk sehat, kreatif, dan berdaya saing,” ungkapnya.
Pemilik usaha, Ibu Nurida, menyampaikan bahwa dukungan NFA melalui bantuan peralatan produksi telah memberikan dampak nyata. “Sejak adanya fasilitasi peralatan, kapasitas produksi kami meningkat, tenaga kerja bertambah, dan jaringan pemasaran makin luas. Kami berkomitmen menjaga kualitas produk sekaligus mengenalkan sorgum sebagai pangan sehat yang bisa diterima berbagai kalangan,” katanya.
Kepala NFA, Arief Prasetyo Adi, dalam keterangan terpisah menegaskan bahwa pengembangan sorgum adalah bagian dari strategi besar diversifikasi pangan nasional. “Kita punya banyak potensi lokal yang bisa menjadi sumber pangan masa depan. Sorgum, singkong, sagu, dan jagung harus kita dorong agar tidak hanya dikonsumsi terbatas, tetapi juga menjadi produk komersial yang memberi nilai ekonomi bagi masyarakat. Melalui UMKM pangan lokal, kita bukan hanya memperkuat ketahanan pangan, tapi juga membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan petani,” tegasnya.
Kisah Sorgum Sueer di Lamongan menjadi contoh nyata bahwa dengan inovasi, pendampingan, dan dukungan yang tepat, pangan lokal mampu bersaing di pasar modern. Lebih dari itu, ia menghadirkan peluang bagi masyarakat untuk lebih mengenal dan mencintai kekayaan pangan nusantara.
#SetahunBerdampak







