KABUPATEN BOGOR — Upaya memperkuat penganekaragaman pangan terus didorong melalui intervensi yang nyata di tingkat lapangan. Badan Pangan Nasional (Bapanas) memperkuat hilirisasi singkong di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, melalui bantuan peralatan pengolahan kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), yang berdampak langsung pada peningkatan kapasitas produksi, mutu, dan daya saing produk pangan lokal.
Langkah ini terlihat dalam pengembangan sentra pengolahan singkong di Desa Tajur, Kecamatan Citeureup, yang kini mulai bergerak dari pola produksi tradisional menuju sistem semi modern berbasis teknologi. Bantuan peralatan yang diberikan mencakup mesin parut, pencuci, pengering, hingga sistem penirisan terintegrasi yang mendukung proses produksi tepung tapioka secara lebih higienis dan efisien.
Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas, Andriko Noto Susanto, menyampaikan bahwa penguatan UMKM menjadi bagian penting dalam strategi besar pembangunan pangan nasional. Ia menekankan bahwa intervensi tidak hanya difokuskan pada peningkatan produksi, tetapi juga pada pembentukan ekosistem yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
"Dengan adanya teknologi, ini mengubah produksi (pengolahan) yang sebelumnya sangat bergantung pada metode tradisional, seperti penjemuran di bawah sinar matahari, menjadi proses yang lebih terkontrol. Dengan dukungan mesin pengering, kapasitas produksi dapat mencapai sekitar satu ton per jam atau setara hingga 12 ton per hari, dan tentunya dengan kualitas yang lebih seragam serta lebih efisien," pungkas Andriko saat meninjau pengolahan tepung tapioka di Desa Tajur, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor (23/4/26).
Ia menambahkan, penguatan rantai pasok juga menjadi perhatian utama. Dalam skema yang dibangun, hasil panen singkong dari petani diserap oleh UMKM untuk diolah menjadi tepung tapioka, kemudian dilanjutkan ke koperasi untuk proses standardisasi, pengemasan ulang, hingga distribusi ke pasar yang lebih luas.
"Pola seperti ini kita harapkan mampu memastikan kesinambungan produksi sekaligus menjaga kualitas produk yang dihasilkan," tambahnya.
Lebih jauh, Andriko menegaskan bahwa pengembangan komoditas singkong merupakan bagian dari upaya mendorong diversifikasi pangan nasional. "Selain beras dan terigu, Indonesia ini memiliki sumber pangan lokal yang melimpah seperti ubi kayu, sorgum, dan sagu yang perlu terus kita dorong pemanfaatannya," ujarnya.
Ia juga menyinggung pentingnya pengendalian impor untuk komoditas yang dapat diproduksi di dalam negeri, agar hasil petani dan pelaku usaha lokal dapat terserap optimal.
Di tingkat lapangan, pelaku UMKM mulai merasakan perubahan signifikan. Andi, yang terlibat dalam pengembangan usaha pengolahan singkong di wilayah tersebut, menjelaskan bahwa bantuan dari Bapanas mendorong transformasi usaha dari sistem tradisional menuju semi modern. Proses produksi yang sebelumnya terbatas kini menjadi lebih efisien, dengan kualitas hasil yang lebih konsisten.
Andi menggambarkan bahwa hasil panen singkong dari masyarakat Desa Tajur kini dapat diserap secara optimal oleh unit pengolahan, sebelum kemudian didistribusikan ke koperasi dan pelaku usaha untuk melalui tahap standardisasi. Dengan permintaan tepung tapioka yang terus meningkat, produk tersebut memiliki peluang besar untuk masuk ke berbagai segmen pasar, termasuk industri makanan olahan.
“Selama ini kebutuhan tepung tapioka cukup tinggi dan digunakan di banyak produk pangan. Dengan pengolahan yang lebih baik, kami optimistis produk dari daerah ini bisa memenuhi kebutuhan pasar dengan kualitas yang lebih terjamin,” ujar Andi.
Dampak bantuan juga dirasakan langsung oleh Khoirudin, pelaku UMKM sekaligus penerima manfaat bantuan alat di Desa Tajur. Ia menyampaikan bahwa penggunaan peralatan baru telah meningkatkan efisiensi produksi secara signifikan. Jika sebelumnya proses pengolahan masih mengandalkan mesin manual berbasis diesel dengan kapasitas terbatas, kini telah beralih ke sistem otomatis yang lebih mudah dioperasikan.
"Alhamdulillah kami sangat terbantu untuk di alat alatnya ya pak, alhamdulillah tadinya memakai mesin diesel yang harus diengkol dan menggunakan solar, ya alhamdulillah sekarang udah otomatis pakai ini pakai dinamo(mesin listrik)," ungkap Khoirudin.
Menurutnya, kapasitas produksi yang sebelumnya hanya berkisar satu hingga dua ton per hari kini dapat meningkat hingga sekitar lima ton, bahkan lebih, tergantung pada ketersediaan bahan baku. Peningkatan ini memberikan ruang yang lebih besar bagi pelaku usaha untuk mengembangkan skala produksi sekaligus memperluas pasar.
Penguatan sektor pengolahan ini juga sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam membangun ekosistem pangan berbasis potensi lokal. Kabupaten Bogor dikenal memiliki produksi singkong yang cukup besar, namun selama ini sebagian besar masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah. Melalui intervensi pengolahan, nilai tambah komoditas dapat ditingkatkan dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
Integrasi antara produksi, pengolahan, hingga distribusi juga membuka peluang keterkaitan dengan program strategis nasional, termasuk penyediaan bahan pangan untuk kebutuhan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dengan kualitas yang semakin terstandar, produk olahan singkong berpotensi menjadi bagian dari rantai pasok pangan bergizi di tingkat masyarakat.
Bapanas menegaskan akan terus mendorong penguatan UMKM pangan lokal melalui pendekatan yang terintegrasi, mencakup peningkatan teknologi produksi, akses terhadap pasar, serta kolaborasi dengan pemerintah daerah dan pelaku usaha. Langkah ini diharapkan mampu mempercepat terbentuknya ekosistem pangan lokal yang berdaya saing sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.
--------------------
Siaran Pers
Badan Pangan Nasional (Bapanas)
258/R-BAPANAS/IV/2026
24 April 2026







