Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) menggelar Sosialisasi Petunjuk Teknis (Juknis) Bantuan Pangan Terfortifikasi dan Biofortifikasi Tahun 2025 di Kabupaten Bogor. Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman menyeluruh kepada pemerintah daerah, mitra kerja, serta pemangku kepentingan terkait pelaksanaan kegiatan bantuan pangan terfortifikasi.
Bantuan pangan terfortifikasi dan biofortifikasi adalah program pemerintah dalam bentuk penyaluran beras yang ditambahkan ataupun diperkaya dengan mikronutrien seperti vitamin (vitamin A, B1, B2, B3, B6, B12, asam folat, dan mineral (zat besi, seng) untuk meningkatkan nilai gizi bagi masyarakat rentan gizi, terutama ibu hamil, baduta, dan balita. Program rintisan ini menargetkan keluarga berisiko stunting di wilayah rentan rawan pangan melalui intervensi beras fortifikasi.
Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (NFA), Sarwo Edhy, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata upaya pemerintah dalam memperbaiki status gizi masyarakat di tengah tantangan ketahanan pangan nasional.
“Kegiatan ini bersifat rintisan berupa pemberian beras fortifikasi kepada masyarakat yang tergolong rentan rawan pangan dan gizi. Harapannya, bantuan ini dapat meningkatkan asupan zat gizi makro sekaligus membantu memenuhi kebutuhan zat gizi mikro,” ujar Sarwo di Bogor, Selasa (2/9/2025).
Sarwo menambahkan, pemerintah telah menyiapkan payung regulasi untuk menjamin mutu dan keamanan beras fortifikasi. Setelah pada tahun 2024 lalu SNI 9314:2024 tentang Kernel Beras Fortifikan telah ditetapkan, kini SNI 9372:2025 Beras Fortifikasi resmi ditetapkan melalui Keputusan Kepala BSN Nomor 233/KEP/BSN/7/2025. Standar ini disusun untuk menjadi acuan dalam produksi beras fortifikasi baik untuk program pemerintah maupun pelaku usaha komersial.
“Saat ini juga telah ditetapkan standar nasional kernel beras fortifikasi melalui SNI 9314:2024 dan standar beras fortifikasi melalui SNI 9372:2025 sebagai acuan mutu dan keamanan beras fortifikasi di Indonesia. Pada tahun 2025 ini, kegiatan Bantuan Pangan Terfortifikasi dan Biofortifikasi akan dilaksanakan di Kabupaten Bogor dengan total 1.944 paket bantuan yang diberikan kepada 648 kepala keluarga dalam tiga kali penyaluran,” jelasnya.
Meski angka daerah rentan rawan pangan nasional turun menjadi 15,7 persen pada 2025, Indonesia masih menghadapi beban gizi ganda atau triple burden of malnutrition seperti stunting, obesitas, dan kekurangan zat gizi mikro. Karena itu, intervensi melalui pangan fortifikasi dinilai sangat relevan.
Direktur Pengendalian Kerawanan Pangan, Sri Nuryanti, menambahkan bahwa bahwa fortifikasi beras merupakan mandat dari Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan serta Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi. Fortifikasi pangan adalah strategi penting untuk memperbaiki status gizi masyarakat, dan beras fortifikasi telah menjadi indikator prioritas nasional dalam RPJMN 2025–2029.
“tahun pertama program difokuskan di empat desa di Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, yaitu Desa Pasarean, Gunungsari, Gunung Picung, dan Ciasmara. Sasaran utamanya adalah keluarga dengan tingkat kesejahteraan 10–30 persen terendah, yang juga beririsan dengan data keluarga berisiko stunting,” terang Sri.
Menurutnya, program ini bukan sekadar distribusi beras fortifikasi, tetapi juga menjadi bagian dari studi efektivitas sistem jaring pengaman sosial.
“Program ini melibatkan Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN) dan Seafast Center IPB University untuk mengkaji efektivitas operasional dan dampaknya terhadap status gizi masyarakat,”lanjutnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bogor, Rini Kusuma Wati, menyambut baik inisiatif tersebut, juga menyampaikan apresiasi kepada Badan Pangan Nasional, serta berharap kolaborasi serupa dapat diperluas ke desa-desa lain di Kabupaten Bogor.
“Empat desa di Kecamatan Pamijahan yang menjadi lokasi program memang masuk kategori rentan rawan pangan. Karena itu, pilot project ini sangat penting untuk membantu masyarakat sekaligus mencegah stunting pada keluarga berisiko,” ujarnya.
Dengan pelaksanaan program rintisan ini, NFA optimistis dapat memperkuat ketahanan pangan nasional, menurunkan angka stunting, serta menjadi solusi nyata dalam memperbaiki status gizi dan menurunkan stunting mewujudkan generasi Indonesia yang sehat dan produktif
#BadanPanganNasional
#NationalFoodAgency
#Bapanas
#NFA
#PanganKuatIndonesiaBerdaulat
#KetahananPangan
#SwasembadaPangan
#SetahunBerdampak







