BADAN PANGAN NASIONAL
Pertengahan Ramadan, Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan Terkendali

JAKARTA — Upaya pemerintah menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan mulai menunjukkan hasil seiring memasuki pertengahan bulan Ramadan. Harga sejumlah komoditas pangan pokok mulai bergerak lebih stabil bahkan cenderung menurun, sehingga memberikan rasa nyaman bagi masyarakat sekaligus tetap memberikan ruang bagi produsen untuk memperoleh harga yang wajar.

Pemerintah menekankan bahwa stabilitas pangan harus dirasakan secara berimbang oleh seluruh pelaku rantai pasok, mulai dari petani dan peternak sebagai produsen hingga masyarakat sebagai konsumen. Dengan kondisi pasokan yang terjaga dan distribusi yang terus dipantau, dinamika harga pangan kini mulai terkendali.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa tren penurunan harga mulai terlihat pada sejumlah komoditas strategis. Meski terdapat beberapa komoditas pangan yang masih mengalami sedikit kenaikan harga, kondisi tersebut dinilainya masih dalam batas kewajaran.

"Aku sudah cek tadi, masih relatif stabil. Ada naik daging ayam ras. Itu yang agak menguat sedikit, sesuai rapat inflasi. Relatif aman," ucap Amran dalam keterangan pers di Jakarta pada Jumat (6/3/2026).

Menurutnya, kenaikan tipis harga pada komoditas tertentu juga perlu dilihat sebagai bagian dari keseimbangan pasar agar produsen pangan tetap memperoleh manfaat ekonomi, khususnya menjelang Hari Raya Idulfitri.

"Sudahlah kalau naik 0,6 persen, sayangilah juga peternak kita sedikit, supaya dia dapat baju lebaran. (Jadi) cabai rawit turun. Cabai merah, turun. Tadi bawang merah juga. Bawang putih juga turun," tambah Kepala Bapanas Amran.

Data Indeks Perkembangan Harga (IPH) Badan Pusat Statistik (BPS) hingga minggu keempat Februari menunjukkan bahwa harga daging ayam ras secara nasional rata-rata berada di Rp 41.013 per kilogram, sedikit di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) tingkat konsumen sebesar Rp 40.000 per kilogram.

Meski demikian, BPS mencatat tren penurunan harga masih terjadi di banyak daerah. Terdapat 84 kabupaten/kota yang mengalami penurunan IPH untuk daging ayam ras. Tren penurunan juga terjadi pada sejumlah komoditas hortikultura, yakni cabai rawit di 79 kabupaten/kota, cabai merah di 128 kabupaten/kota, bawang putih di 147 kabupaten/kota, serta bawang merah di 227 kabupaten/kota.

Kondisi tersebut juga terlihat di lapangan. Hasil pemantauan Badan Pangan Nasional di Pasar Johar, Karawang, Jawa Barat, Jumat (6/3/2026) menunjukkan harga sejumlah komoditas mulai melandai dalam beberapa hari terakhir.

Arif, pedagang daging ayam karkas di pasar tersebut, mengaku harga ayam masih berada pada level yang relatif stabil.

"(Daging ayam) seekor Rp 40.000. Satu ekor (beratnya) 1,4 kilogram. Kita ngambilnya langsung sudah dipotong di Rp 39.000 per ekor," ungkapnya.

Sementara itu, harga cabai dan bawang juga mulai menunjukkan tren penurunan. Nia, pedagang sayuran di Pasar Johar, mengatakan harga komoditas tersebut sudah lebih bersahabat dibandingkan beberapa waktu sebelumnya.

"Cabai keriting Rp 35.000 per kilogram. Kalau ini (cabai rawit) Rp 100.000. Ini sudah lumayan turun. Aku belanja langsung ke Kopo. Kalau sayuran kan harus segar terus. Bawang putih sekarang Rp 36.000. Bawang sudah turun. Kalau bawang merah di Kopo Rp 32.000, sekarang aku jual Rp 35.000," urai Nia.

Di pasar yang sama, harga daging sapi juga masih terjaga pada level yang kompetitif.  "Daging sapi lokal sekarang Rp 140.000 per kg. Sapinya ini dari Jawa. Beli hidup. Kalau dari yang impor Rp 55.000 per kg (sapi hidup dari feedlotter). Kalau sapi lokal dari Jawa sekitar Rp 53.000. (Tantangannya) persentasenya belum masuk kalau lokal, jadi dagingnya sedikit," ungkap Karna, pedagang daging sapi di Pasar Johar.

Selain komoditas pangan segar, pemerintah juga terus memastikan ketersediaan pangan strategis melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Di Pasar Johar Karawang, masyarakat masih dapat dengan mudah menemukan beras SPHP serta minyak goreng rakyat Minyakita. Menurut pengelola pasar, Perum Bulog memasok beras SPHP ke sekitar enam toko di pasar tersebut.

"(Beras SPHP) per kampil Rp 60.000. Lumayan peminatnya. Kalau Minyakita, alhamdulillah laku keras karena bulan Puasa kan banyak yang masak goreng-gorengan," tutur Siti, salah satu pedagang mitra Bulog.

Adapun inflasi pangan secara bulanan masih cukup terkendali. Komponen volatile food pada Februari 2026 tercatat 2,50 persen (month to month) dengan andil 0,41 persen terhadap inflasi umum secara bulanan dan secara tahunan berada di level 4,64 persen. Ini juga masih dalam rentang sasaran pemerintah sebesar 3 sampai 5 persen.

Jika dibandingkan dengan periode Ramadan pada beberapa tahun sebelumnya, inflasi pangan tahunan sebesar 4,64 persen pada tahun ini juga tercatat lebih stabil. Inflasi pangan tahunan pada Ramadan 2022 tercatat 5,48 persen, meningkat menjadi 5,83 persen pada Ramadan 2023, dan bahkan sempat mencapai 10,33 persen pada Ramadan 2024.

Torehan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa daya beli masyarakat masih terjaga. Pemerintah pun memastikan akan turut pula menjaga dinamika kondisi harga pangan pokok agar terus berada di dalam koridor kewajaran sebagaimana ketentuan harga yang ditetapkan pemerintah.


--------------------

Siaran Pers

Badan Pangan Nasional (Bapanas)

153/R-BAPANAS/III/2026

7 Maret 2026

BADAN PANGAN NASIONAL  
Sejak 25/01/2023
Kantor
Jalan Harsono RM No.3, Ragunan, Ps. Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
(021) 7807377
komunikasi@badanpangan.go.id
Media Sosial
Tautan Terkait
Kementerian Pertanian
Kementerian Kelautan dan Perikanan
Kementerian Kesehatan
Kementerian Perdagangan
Kementerian Komunikasi dan Informatika
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
Badan Pusat Statistik
Badan Informasi Geospasial
Perum BULOG
ID FOOD
Whistleblowing System

Jangan takut untuk lapor!

Cegah pelanggaran dengan melakukan pengaduan melalui Whistleblowing System. Hubungi:

Copyright © 2026 Badan Pangan Nasional. All Rights Reserved.