JAYAPURA - Stabilitas harga dan pasokan pangan di Papua tetap terjaga setelah Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri. Kondisi ini menunjukkan kuatnya kolaborasi lintas sektor dalam Satgas Saber Pangan yang terus mengawal distribusi dan harga pangan di daerah.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Satgas Saber Pangan kembali mengintensifkan pemantauan harga dan pasokan pangan di Kota Jayapura pada Rabu (1/4/2026). Langkah ini dilakukan untuk memastikan kondisi tetap stabil sekaligus mengantisipasi peningkatan permintaan menjelang Hari Raya Paskah.
Direktur Kewaspadaan Pangan Bapanas, Nita Yulianis, mengapresiasi sinergi yang terjalin selama periode Ramadan dan Idulfitri. Menurut dia, kerja sama tersebut terbukti efektif menjaga kelancaran distribusi serta menahan gejolak harga di tingkat konsumen.
Ia menjelaskan, distribusi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), MinyaKita, serta pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) berjalan baik di berbagai kabupaten dan kota di Papua.
“Kolaborasi yang sudah terbangun ini menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas harga dan pasokan. Ke depan, upaya ini akan terus diperkuat, termasuk melalui intensifikasi GPM dan penyaluran beras SPHP agar harga tetap terkendali,” ujar Nita.
Berdasarkan hasil pemantauan di Pasar Tradisional Hamadi dan Hypermart Jayapura, ketersediaan bahan pangan pokok seperti beras, minyak goreng, telur, dan daging ayam terpantau aman. Harga sejumlah komoditas pun relatif stabil. Cabai merah keriting tercatat turun ke kisaran Rp. 50.000 per kilogram, sementara gula pasir kemasan berada di level Rp. 18.500 per kilogram.
Penurunan harga ini juga dirasakan langsung oleh pedagang. Salah satu pedagang cabai di Pasar Hamadi, Ibu Haliza, menyebut harga saat ini lebih rendah dibandingkan sebelum Lebaran.
“Untuk cabai merah keriting dan gula pasir, sebelum Lebaran harganya di atas Rp. 60.000, sekarang sekitar Rp. 50.000 per kilo. Gula pasir dari sekitar Rp. 20.000 sekarang jadi Rp. 18.500,” ujar Haliza.
Ia menambahkan, lonjakan harga dan tingginya permintaan sebelum Lebaran dipicu oleh kebutuhan masyarakat untuk persiapan hari raya. “Sebelum Lebaran, penjualan cukup ramai karena banyak pembeli yang berbelanja untuk kebutuhan hari raya. Setelah ini permintaan menurun, mungkin karena stok masih mencukupi,” katanya.
Nita menegaskan, penguatan pengawasan akan terus dilakukan agar stabilitas ini dapat terjaga dalam jangka panjang. “Tim Saber Pangan diharapkan terus menjaga stabilitas harga serta memastikan keamanan dan mutu pangan. Program GPM dan penyaluran beras SPHP akan terus diintensifkan hingga akhir tahun, termasuk pengawasan terhadap peredaran MinyaKita di Papua, khususnya yang berasal dari luar Bulog,” ujarnya.
Selain pemantauan, Satgas juga memberikan edukasi kepada pedagang terkait kepatuhan terhadap harga acuan pemerintah serta standar keamanan dan mutu pangan. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran pelaku usaha dalam menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.
Pemerintah daerah turut memperkuat upaya pengendalian dengan mendorong peningkatan produksi lokal, seperti budidaya cabai dan pengembangan peternakan ayam petelur. Upaya ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pasokan dari luar wilayah.
Sementara itu, Dirreskrimsus Polda Papua Kombes Pol Dr. Rama Samtama Putra menyatakan Satgas Saber Pangan terbukti efektif dalam menjaga stabilitas harga di Papua. Ke depan, pendekatan serupa akan diperluas, termasuk untuk mengawal distribusi energi di wilayah tersebut.
“Pendekatan ini mengedepankan langkah pencegahan agar distribusi berjalan transparan dan tepat sasaran. Untuk MinyaKita, kami juga terus berkoordinasi dengan pihak terkait guna memastikan rantai pasoknya sesuai ketentuan,” ujarnya.
----------------------
Siaran Pers
Badan Pangan Nasional (Bapanas)
202/R-BAPANAS/IV/2026
2 April 2026







