BOGOR - Bantuan alat pengolahan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) membawa perubahan nyata bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pengolahan singkong di Kabupaten Bogor. Bagi UMKM, dukungan peralatan modern menjadi titik awal peningkatan kualitas produksi, higienitas, dan daya saing produk.
Andi, pelaku UMKM pengolahan singkong di Bogor, mengungkapkan bahwa sebelum menerima bantuan, proses produksi masih dilakukan secara tradisional dengan keterbatasan kualitas dan risiko kontaminasi.
“Dulu pengolahan masih manual dan sangat bergantung pada cara tradisional. Sekarang, dengan alat ini (bantuan dari Bapanas), prosesnya lebih higienis dan kualitas produk lebih stabil,” ujarnya saat menerima kunjungan Deputi Bapanas di tempat pengolahan singkong miliknya (31/12/25).
Menurut Andi, bantuan alat tersebut membuka peluang baru bagi UMKM untuk mengembangkan variasi produk turunan singkong. Selain tepung tapioka, singkong dapat diolah menjadi produk lain seperti mocaf yang memiliki pasar lebih luas.
Bantuan alat yang diberikan antara lain, mesin parut, drum peniris/pengering dengan konveyer, drum pencuci, goblek ayakan, alat pengering (heat exchanger), serta bak penampung.
“Ke depan, produk berbasis singkong ini bisa masuk ke pasar yang lebih besar, termasuk kita juga usahakan dorong untuk kebutuhan program MBG (Makan Bergizi Gratis),” katanya.
Kepala Desa Tajur, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, Ade Saprudin, menilai dukungan Badan Pangan Nasional memberikan manfaat langsung bagi masyarakat desa. Ia melihat singkong yang selama ini hanya dijual sebagai bahan mentah kini memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi setelah diolah.
“Dengan dukungan alat dari Bapanas, produktivitas warga meningkat dan singkong bisa memberi manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat sekitar,” ujarnya.
Pemerintah daerah juga menyambut baik dukungan tersebut. Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bogor, Rini Kusumawati, menyampaikan bahwa wilayah Bogor memiliki potensi singkong yang besar dan membutuhkan dukungan pengolahan agar hasil panen terserap optimal.
“Kami sedang menyiapkan skema penguatan ekosistem dari hulu ke hilir, termasuk pengolahan singkong dan penyaluran produknya ke dapur-dapur SPPG di sekitar wilayah ini, harapannya bisa memberikan manfaat kepada petani, pelaku usaha dan juga masyarakat luas,” katanya.
Deputi Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional, Andriko Noto Susanto, menegaskan bahwa bantuan alat kepada UMKM merupakan bagian dari strategi memperkuat pangan lokal melalui pemberdayaan pelaku usaha.
“UMKM adalah penggerak penting dalam penganekaragaman pangan. Dengan peralatan yang lebih baik, UMKM bisa meningkatkan kualitas, memperluas pasar, dan ikut memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
Andriko menambahkan bahwa penguatan UMKM pangan lokal juga berkontribusi pada peningkatan konsumsi pangan yang beragam dan bergizi. Produk olahan singkong memiliki potensi besar sebagai alternatif pangan pokok dan pangan olahan yang sesuai dengan kebutuhan gizi masyarakat.
Bagi pelaku UMKM, bantuan ini tidak hanya semata alat produksi, namun harapan dan spirit untuk mengembangkan potensi pangan lokal. “Kami optimistis, dengan dukungan ini, produksi bisa segera berjalan dan manfaatnya dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” kata Andi.
Badan Pangan Nasional terus mendorong agar penguatan pangan lokal berbasis UMKM berjalan seiring dengan peningkatan teknologi, akses pasar, dan kolaborasi dengan pemerintah daerah. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pangan lokal yang kuat, berdaya saing, dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
—--------------
Siaran Pers
Badan Pangan Nasional (Bapanas)
539/R-BAPANAS/XII/2025
31 Desember 2025







