JAKARTA—Skor Pola Pangan Harapan (PPH) nasional tahun 2025 mencapai angka 95,1, meningkat cukup signifikan dari tahun 2024 yang berada di 93,5. Sekaligus telah melampaui target Renstra Badan Pangan Nasional (Bapanas) tahun 2025 yakni sebesar 94,0. Hasil kinerja ini menunjukkan perbaikan kualitas konsumsi masyarakat yang mengarah pada keberagaman dan gizi seimbang.
“Metodologi penghitungan skor PPH tahun 2025 sebenarnya masih sama. Namun terdapat update angka konversi pada makanan jadi, maupun makanan atau minuman manis, guna mengakomodasi perubahan pola konsumsi masyarakat saat ini, juga meminimalkan underestimated data di sejumlah komoditas.” jelas Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan Bapanas, Rinna Syawal ditemui secara daring dalam Sosialisasi Skor PPH dan Data Konsumsi Pangan Hasil Susenas Maret 2025 (8/12).
Sebagaimana diketahui, skor PPH merupakan indikator kualitas konsumsi pangan masyarakat Indonesia yang bersumber dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) bulan Maret. Penghitungannya berbasis konsumsi dan pengeluaran pangan rumah tangga yang mencakup 9 kelompok pangan utama, yakni padi-padian, umbi-umbian, pangan hewani, minyak dan lemak, buah/biji berminyak, kacang-kacangan, gula, sayur dan buah, serta bahan minuman dan bumbu-bumbuan.
Statistisi Ahli Madya Direktorat Statistik Kesejahteraan Rakyat Badan Pusat Statistik (BPS), Amiek Chamami, yang turut hadir secara daring pada agenda tersebut mengungkapkan bahwa pelaksanaan Susenas 2025 telah mengambil sampel 345.000 rumah tangga di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota.
“Survei dilakukan pada Februari 2025 untuk menghindari bias konsumsi selama Ramadhan di bulan Maret 2025. Selain itu, jumlah komoditas dalam kuesioner ditingkatkan dari 197 menjadi 225 komoditas untuk menangkap variasi konsumsi secara lebih komprehensif, termasuk jenis ikan, olahan daging, produk susu, sayuran, dan buah.” ia menambahkan.
Lebih jauh dijelaskan, untuk akurasi data mikro dilakukan pula perubahan penghitungan komposisi makanan menjadi lebih terperinci berdasarkan komponen gizi masing-masing, termasuk kandungan gula.
“Misalnya nasi campur, dihitung karbohidrat dari beras, proteinnya, lemaknya, sayurnya. Makanan jadi seperti es krim, kopi instan, roti, dan olahan ikan atau daging juga sekarang ada perincian gula.” ungkap Statistisi Muda Direktorat Statistik Kesejahteraan Rakyat BPS, Ofi Ana Sari, dalam kesempatan yang sama.
Berdasarkan 9 kelompok pangan penyusun skor PPH 2025, cukup terlihat konsumsi masyarakat yang lebih beragam, dimana capaian konsumsi buah dan sayur mencapai 251,34 gram/kapita/hari, melewati target yang telah ditetapkan yaitu 245,33 gram/kapita/hari.
Sementara pangan hewani tercapai pada angka 133,37 gram/kapita/hari yang juga telah melebihi target yang ditetapkan di angka 129,11 gram/kapita/hari. Konsumsi protein mencapai 62,8 gram/kapita/hari, melampaui rekomendasi ideal sebesar 57 gram.
Konsumsi energi pun tercatat sebesar 2073 kkal/kapita/hari, mendekati angka ideal 2100 kkal. Sedangkan konsumsi umbi-umbian ada pada 50,22 gram/kapita/hari, masih di bawah target yang telah ditetapkan yaitu 53,40 gram/kapita/hari.
“Ini adalah kemajuan signifikan yang patut kita syukuri, ada 72 kabupaten/kota dengan capaian di atas skor PPH nasional. Jumlah provinsi dengan skor di atas PPH nasional juga bertambah. Kita perkuat lagi strategi penganekaragaman konsumsi pangan dengan mendorong optimalisasi sumber daya lokal, sesuai Perpres 81/2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Pangan Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal.” pungkas Rinna.
Adapun berikut capaian skor PPH tahun 2025 terbaik level provinsi dengan skor PPH di atas skor PPH nasional:
Jawa Tengah : 96,9
DI Yogyakarta : 96,9
Banten : 95,9
Jawa Timur : 95,83
Nusa Tenggara Barat : 95,3
Sumatera Selatan : 95,1
-----







