KARAWANG — Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kembali mengukir rekor fantastis di sektor pangan nasional. Total stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) secara nasional per hari ini tembus di angka tertinggi sepanjang sejarah mencapai 5.000.198 ton.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman yang juga Menteri Pertanian pun mengungkapkan Indonesia sudah berhenti impor sejak tahun 2025. Untuk tahun 2026 ini juga diupayakan tidak ada impor beras melalui Perum Bulog karena produksi dalam negeri mencukupi.
"Hari ini kita umumkan beras 5.000.198 ton. Ini berkat kerja keras kita semua dan ini berkontribusi pada rakyat Indonesia juga berkontribusi pada dunia yang konsumsi beras yaitu 33 negara dan untuk sebagian penduduknya, ada 170 negara. Jadi Indonesia sekarang berkontribusi pada dunia," beber Amran di Gudang Filial Bulog, Karawang, Jawa Barat pada Kamis (23/4/2026).
"Kenapa? Karena Indonesia pernah impor beras 2023 dan 2024. 7 juta ton dengan jagung, kurang lebih Rp 100 Triliun. Alhamdulillah kita tidak impor di 2025. Insya Allah 2026 tidak impor. Kita saling mendoakan, kita kolaborasi. Insya Allah 2026 tidak impor beras. Cadangan kita adalah tertinggi sepanjang sejarah di bulan April ini," tambah Amran.
Berkat Indonesia setop impor beras sejak tahun 2025 telah memberi tekanan terhadap pasar beras dunia. Alhasil, berbagai negara yang masih melakukan impor beras selama tahun 2025 secara tidak langsung terbantu karena terjadi penurunan harga beras dunia.
Harga beras di pasar internasional mengalami kontraksi menjadi lebih rendah. Visi Indonesia menjadi lumbung pangan dunia pun bukan jadi isapan jempol belaka. Bahkan dalam data The Food and Agriculture Organization (FAO), harga beras internasional di 2025 benar-benar mengalami kejatuhan terdalam dalam 4 tahun terakhir.
Mengenai perkembangan harga beras di pasar internasional dapat dilihat pada perkembangan indeks The FAO All Rice Price Index (FARPI). Indeks FARPI di Desember 2024 yang 119,2 poin merupakan titik paling rendah sepanjang tahun 2024. Adapun pada minggu ketiga Desember 2024 merupakan momen pengumuman Indonesia setop impor beras.
Kemudian, indeks FARPI di tahun 2025 pun semakin menurun drastis. Bahkan FARPI di November 2025 dengan indeks 96,9 mencatatkan titik paling rendah dalam 4 tahun terakhir. Keputusan Indonesia menghentikan impor beras mulai tahun 2025 terbukti turut berkontribusi terhadap tergerusnya harga beras di pasar internasional.
Selanjutnya, dalam data yang disadur dari laporan Rice Outlook April 2026 yang disusun oleh United States Department of Agriculture (USDA), masih cukup banyak negara-negara yang melakukan importasi beras lebih dari 1 juta ton selama tahun 2025. Untuk diketahui, USDA menyajikan 2 jenis laporan yang salah satunya berbentuk tabel perkembangan seputar kondisi beras dunia.
Indonesia sendiri dilaporkan USDA mengalami perubahan tahunan impor beras tahun 2025 yang paling signifikan dibandingkan 80 negara lainnya. Indonesia disebutkan mencatatkan minus 3,8 juta ton untuk impor tahun 2025 dibandingkan impor tahun sebelumnya.
Sementara negara pengimpor beras paling besar di 2025 adalah Filipina. Menurut USDA, Filipina mengimpor hingga 3,6 juta ton selama tahun 2025. Meskipun menurun 1,8 juta ton terhadap impor beras 2024, Filipina diproyeksikan menambah lagi impornya di 2026 hingga 1,8 juta ton menjadi kisaran 5,5 juta ton.
Selanjutnya negara pengimpor beras terbesar kedua di dunia pada 2025 adalah Vietnam. Meskipun Vietnam aktif sebagai negara eksportir beras hingga 8 juta ton di 2025, negara tetangga Indonesia ini juga masih harus melakukan impor beras sebanyak 3,5 juta ton di tahun lalu. Untuk tahun ini, USDA memprediksi impor beras Vietnam di 2026 naik menjadi 3,9 juta ton.
Pencapaian swasembada beras Indonesia termaktub dalam Proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2025. Untuk beras sepanjang tahun 2025 tidak ada impor karena produksi dalam negeri setahun yang mencapai 34,69 juta ton telah dapat memenuhi kebutuhan konsumsi tahunan sebesar 31,16 juta ton.
Sebagai implikasi positifnya, dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) torehan Nilai Tukar Petani (NTP) Tanpa Perikanan secara nasional sejak Juli 2024 konsisten terjaga diatas 120. Indeks NTP Tanpa Perikanan yang tertinggi dalam 7 tahun terakhir pun tercapai pada Desember 2025 dan Februari 2026 yang sama-sama berada di 126,11.
Tak hanya itu, indeks harga yang diterima petani padi pun dalam data historis BPS juga terus terjaga konsisten dengan selalu berada di atas 130 poin sejak Juni 2024 sampai saat ini. Indeks terbaru pada Maret 2026 bahkan berada di 144,52 dan ini juga masih lebih tinggi dibandingkan Maret tahun lalu yang berada di 137,94.
-------------------
Siaran Pers
Badan Pangan Nasional (Bapanas)
256/R-BAPANAS/IV/2026
23 April 2026







