KARAWANG – Akselerasi produksi beras nasional yang digeber selama ini berbuah manis di masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini. Dalam kegiatan panen raya bersama petani di Kecamatan Cilebar, Karawang, Jawa Barat pada Rabu (7/1/2026), Presiden Prabowo mengukuhkan Indonesia telah mencapai swasembada beras.
"Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, pada hari ini Rabu 7 Januari tahun 2026, saya Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia dengan ini mengumumkan telah tercapainya swasembada pangan tahun 2025 bagi seluruh bangsa Indonesia," ucap Presiden Prabowo.
"Hari ini kita telah mencatat suatu kemenangan yang penting. Terima kasih seluruh komunitas pertanian di Indonesia, saudara bekerja keras, saudara bersatu, saudara kompak. Saudara hasilkan yang empat tahun, saudara berikan kepada bangsa dan negara satu tahun kita sudah swasembada. Satu tahun kita sudah berdiri di atas kaki kita sendiri. Satu tahun kita tidak tergantung bangsa-bangsa lain," kata Kepala Negara.
Salah satu bukti pencapaian swasembada beras adalah adanya selisih lebih atau surplus dari produksi yang sudah mampu melampaui kebutuhan konsumsi nasional. Dalam kalkulasi Badan Pangan Nasional (Bapanas), surplus produksi terhadap konsumsi beras di 2025 mencapai 3,52 juta ton. Ini berasal dari total produksi 34,71 juta ton yang telah melampaui kebutuhan konsumsi 31,19 juta ton.
Lebih lanjut, dalam Proyeksi Neraca Pangan Nasional yang telah Bapanas ampu sejak tahun 2022, tampak jelas terdapat lonjakan surplus produksi terhadap konsumsi beras. Kala itu, pada tahun 2022 produksi beras berada di 31,54 juta ton, sedangkan konsumsi beras 30,51 juta ton, sehingga masih ada surplus 1,02 juta ton.
Dengan demikian, surplus produksi terhadap konsumsi beras di tahun 2025 pun meningkat pesat hingga 243,2 persen jika dibandingkan terhadap tahun 2022. Dari surplus tahun 2022 yang 1,02 juta ton meroket hingga menjadi surplus 3,52 juta ton pada 2025 pada saat era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Sementara pada tahun 2023, surplus produksi beras terhadap konsumsi saat itu berkisar di 204,29 ribu ton. Ini dari produksi beras setahun yang 31,1 juta ton dengan kebutuhan konsumsi di 30,9 juta ton. Kemudian di 2024 tidak ada surplus produksi terhadap konsumsi.
Hal lain yang semakin meneguhkan pencapaian swasembada beras di tahun 2025 adalah nihilnya impor untuk Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang ditugaskan Bapanas ke Perum Bulog. Sebagaimana arahan Presiden Prabowo, tidak ada importasi beras umum untuk yang dikonsumsi masyarakat Indonesia, karena hasil petani dalam negeri mampu memenuhinya.
Dalam catatan Bapanas, pada tahun 2022 pemerintah terpaksa mengadakan impor untuk CBP sejumlah 57,4 ribu ton. Kemudian pada tahun 2023 Bulog telah merealisasikan penugasan pengadaan beras dari luar negeri sejumlah 2,81 juta ton dan pada 2024 sejumlah 3,85 juta ton.
Di kesempatan yang sama, Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memaparkan salah satu strategi peningkatan produksi beras nasional adalah menjaga harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani. Pemerintah bersama Perum Bulog pun telah berhasil mewujudkan kiat tersebut sepanjang tahun 2025.
"Kami mewakili seluruh petani Indonesia, ada 160 juta mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden yang luar biasa perhatiannya sektor pertanian. Izin Bapak Presiden, ada beberapa poin kami sampaikan, produksi (beras) kita 34 juta ton," ungkap Amran.
"Sekali lagi, atas nama petani Indonesia, Bapak Presiden, kami mengucapkan terima kasih tak terhingga. Ini luar biasa, harga gabah petani naik, kesejahteraannya pun demikian," sambung Amran.
Adapun penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp 6.500 per kilogram (kg) dengan segala kualitas untuk GKP tingkat petani berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2025 dan Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 14 Tahun 2025. Ini merupakan konkretisasi tekad pemerintah untuk melindungi petani sebagai elemen penting dalam kerangka percepatan swasembada pangan.
Menyadur data Panel Harga Pangan, sepanjang tahun 2025 tren rerata harga GKP secara nasional tidak pernah anjlok di bawah HPP Rp 6.500 per kg. Sejak pemberlakuan HPP GKP di akhir Januari, rerata harga GKP selama Februari bercokol di Rp 6.550 per kg dan ditutup pada Desember di Rp 6.836 per kg. Sementara kondisi harga GKP di masa panen raya pada Maret dan April masing-masing berada di Rp 6.586 per kg dan Rp 6.549 per kg.
----------------
Siaran Pers
Badan Pangan Nasional (Bapanas)
006/R-BAPANAS/I/2026
7 Januari 2026







