Saat ini Generasi Millenial dan Gen Z di Indonesia yang berjumlah 145,4 juta orang atau 53,81% dari total penduduk Indonesia merupakan potensi yang sangat besar dalam pembangunan pangan dan pertanian. Untuk itu seorang agripreneur masa depan diharuskan mempunyai cakrawala dan wawasan yang luas serta responsif dalam menyikapi berbagai hal yang terkait dengan permasalahan ketahanan pangan.
Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Pangan Nasional/ National Food Agency (NFA) Arief Prasetyo Adi pada saat menghadiri Talkshow Agripreneur 5.0 : Integrasi Teknologi dan Sumber Daya Manusia di Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor (13/9/2022). Dalam kesempatan ini juga dilakukan peuncuran Agripreneurs Indonesia (GRIN) yang merupakan wadah dalam membangun kerjasama antara pemerintah, pelaku bisnis, peneliti dan pembina untuk memajukan dan mempromosikan agripreneurship di Indonesia.
“Dalam pertanian modern, saya yakin mahasiswa Polbangtan pasti paham bagaimana budidaya pertanian menggunakan integrated system untuk menghasilkan sumber pangan alternatif yang lebih beragam. Seorang calon agripreneur harus dapat menjadi problem solver.” ungkapnya.
Arief menambahkan kedepan penggunaan teknologi baik tekhnologi on farm maupun off farm ini akan sangat menentukan untuk peningkatan produktivitas.
“Terkait tekhnologi terdapat dua aspek yang tidak bisa dipisah-pisahkan yaitu on farm dan off farm, dua aspek ini kalau dikaitkan dengan teknologi artinya kita siapkan mulai dari pengolahan, pembalikan tanah kemudian penggunaan drone, dryer dan citra satelit” tambahnya.
Selain itu juga menurut nya terdapat faktor penting yang tidak kalah penting yaitu sumber daya manusia atau human capital yang agile, open minded, adaptif, dan berwawasan internasional.
“Kita sepakat bahwa generasi milenial generasi Z ataupun post milenial harus ikut dalam kegiatan pertanian sehingga pertanian kita bisa maju kedepan untuk menjadi negara yang berdaulat.” katanya.
Menurutnya saat ini adalah waktunya untuk hand in hand dan menjalin kerjasama dengan semua pihak.
“Badan Pangan Nasional saat ini membuat orkestrasi antara Kementerian Pertanian yang memproduksi kemudian ada kementerian lembaga lain seperti Kemendag dan Kementerian Bidang Perekonomian dan tentunya eksekusinya salah satunya ada di BUMN, asosiasi asosiasi dan pengusaha di bidang pangan” tegasnya.
Hal senada disampaikan oleh Hermawan Kartajaya bahwa peluncuran GRIN ini merupakan kesempatan untuk menyatukan kepentingan dan kolaborasi dengan semua pihak.
“Kita kolaborasi hari ini, GRIN diluncurkan ini kita juga menggandeng ID Food dan Badan Pangan Nasional. Supaya ini jalan, kita kolaborasi dengan inisiatif BUMN, pemerintah, swasta harus digabungkan karena gak bisa membangun negara ini sendiri. Lakukan kolaborasi dengan siapapun dan jangan menutup diri” katanya.
Dia menyebut jika Agroteknologi 5.0 ini bukan untuk ditakuti dan bukan untuk menggantikan petani,
tetapi supaya mendidik agar petani menjadi enterpreneur.
“Petani tidak perlu takut digantikan oleh tekhnologi tetapi justru kesempatan untuk menjadi enterpreneur dengan ada nya tekhnologi, jadilah petani enterpreneur. Kalau seorang enterpreneur, ada tekhnologi itu harus dipakai” tambahnya.
Untuk menjadi negara yang mandiri, Hermawan menyebut harus memiliki jiwa entepreneurs yaitu berani mengambil kesempatan, mampu melihat peluang dan berani memanfaatkan tekhnologi serta tidak takut tersingkir dengan adanya tekhnologi.
“Marketing bukan hanya sekedar jualan tetapi how to win competition dalam setiap tindakan” tambahnya.







