JAKARTA – Penguatan kerja sama dalam mendukung transformasi sistem pangan (agrifood system) yang inklusif dan berkelanjutan dibahas dalam pertemuan antara Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) dan Food and Agriculture Organization (FAO) di kantor NFA, Selasa (3/6/2025).
Direktur Pengendalian Kerawanan Pangan NFA, Sri Nuryanti menyatakan pertemuan ini menjadi bagian dari penyusunan Common Country Analysis (CCA), UN Sustainable Development Cooperation Framework (UNSDCF), serta FAO’s Country Programming Framework (CPF) serta peluang penguatan program investasi pangan yang berkelanjutan.
"Diskusi mencakup arah kebijakan ketahanan pangan, relevansi data, hingga peluang penguatan program investasi pangan yang berkelanjutan," ujarnya.
Sri Nuryanti menegaskan komitmen NFA untuk mewujudkan sistem pangan nasional yang berdaulat dan berkelanjutan. "Melalui pertemuan ini, kami ingin memperkuat kolaborasi dengan FAO dalam mengatasi tantangan ketahanan pangan dan gizi di Indonesia, khususnya dalam hal ketersediaan, keterjangkauan, dan pemanfaatan pangan,"
“Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk menyelaraskan pandangan dan program antara FAO dan Badan Pangan Nasional, khususnya dalam mendukung agenda transformasi sistem pangan nasional. Kami menyambut baik rencana FAO untuk melaksanakan dua studi analitis yang sejalan dengan upaya kami memperkuat ketahanan pangan dan gizi masyarakat,”tandasnya.
FAO yang hadir dalam pertemuan ini diwakili oleh Ana Paula de la O Campos, Marie Jo A. Cortijo, Seneshaw Beyene, dan Abdur Rub. Mereka menyampaikan bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari misi untuk memperdalam dialog strategis dengan pemangku kepentingan nasional, serta untuk meninjau data dan bukti yang tersedia dalam rangka mendorong arah kebijakan yang berbasis fakta.
Ana Paula, Economist from Headquarter (Rome) FAO juga mengusulkan dua studi utama, yakni “Beyond Calories: What Indonesian Diets Lack—And for Whom?” yang membahas kesenjangan konsumsi pangan dibandingkan Pedoman Gizi Seimbang, serta “Land Use Dynamics in Indonesia: Macro Perspectives” yang mengulas dinamika penggunaan lahan pertanian dan kebijakan ekspansi lahan pangan.
"Pendekatan berbasis bukti ini tidak hanya menjawab 'apa' dan 'siapa', tetapi juga 'mengapa' di balik ketimpangan gizi. Ini kunci untuk merancang intervensi yang efektif." ungkap Ana Paula.
Lebih lanjut Sri Nuryanti mengatakan, NFA telah menyampaikan sejumlah kebijakan dan kegiatan strategis yang telah dijalankan dalam memperkuat sistem ketahanan pangan nasional. Di antaranya adalah penyusunan Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA), pemantauan Prevalensi Kekurangan Asupan Energi (PoU), penghitungan Pola Pangan Harapan (PPH), diversifikasi konsumsi pangan, serta pengurangan kehilangan dan pemborosan pangan (food loss and waste). Selain itu, penguatan sistem data ketersediaan pangan juga terus dilakukan melalui penyusunan Neraca Pangan dan Prognosa Ketersediaan dan Kebutuhan Pangan.
Badan Pangan Nasional berkomitmen untuk terus memperkuat koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat, guna mewujudkan ketahanan pangan yang inklusif dan berkelanjutan. "Dengan sinergi yang kuat, kami yakin dapat mewujudkan visi pangan nasional untuk kesejahteraan rakyat Indonesia," tutup Sri Nuryanti.
Pertemuan ini menyepakati bahwa isu-isu dalam dua studi FAO memiliki relevansi kuat dengan prioritas nasional. NFA dan FAO akan melanjutkan diskusi untuk menyelaraskan substansi studi agar sesuai dengan kebutuhan kebijakan domestik. FAO juga akan menelaah lebih lanjut program-program NFA sebagai dasar pengembangan kerja sama ke depan.
Siaran Pers
Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA)
---/R-NFA/IV/2025
03 Juni 2025
Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
Email: komunikasi@badanpangan.go.id
Telepon: 0877-8322-0455







