JAKARTA – Perkembangan harga daging ayam ras dan telur ayam ras secara nasional menunjukkan tren yang semakin terkendali. Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) terus memperkuat langkah stabilisasi guna menjaga agar perbaikan harga dapat merata di berbagai wilayah, seiring meningkatnya permintaan khususnya menjelang Idulfitri 1447 H.
Panel Harga Pangan Bapanas mencatat pada 9 Maret harga rata-rata ayam ras hidup di tingkat produsen turun menjadi Rp 24.508 per kg atau turun 0,13 persen dibandingkan hari sebelumnya. Harga tertinggi tercatat di Sumatera Utara sebesar Rp 27.781 per kg, sedangkan terendah di Banten Rp 22.500 per kg. Rata-rata tersebut berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) produsen yang ditetapkan sebesar Rp 25.000 per kg.
Sementara itu, rata-rata harga daging ayam ras di tingkat konsumen secara nasional berada di Rp 40.657 per kg, dengan harga tertinggi di Papua Tengah mencapai Rp 64.412 per kg dan terendah di Sulawesi Selatan sebesar Rp 32.196 per kg.
Tren serupa juga terlihat pada harga telur ayam ras. Di tingkat produsen, harga turun 0,75 persen dibanding hari sebelumnya dengan rata-rata nasional Rp 26.874 per kg. Harga tertinggi tercatat di Sulawesi Utara sebesar Rp 32.000 per kg dan terendah di Jambi Rp 24.667 per kg. Meski masih sedikit di atas HAP produsen Rp 26.500 per kg, pergerakan ini menunjukkan arah yang positif. Adapun rata-rata harga di tingkat konsumen secara nasional Rp 31.674 per kg, dengan harga tertinggi di Papua Selatan Rp 51.000 per kg dan terendah di Aceh Rp 27.867 per kg.
Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas, Maino Dwi Hartono, mengungkapkan bahwa pemantauan harga rutin dilakukan di berbagai daerah. Diketahui, sebagian wilayah masih mencatat harga di atas harga acuan pemerintah sehingga perlu perhatian dan penguatan pengendalian.
“Dan di pantauan kami memang ada beberapa yang tercatat harganya tinggi di atas acuan pemerintah, terutama untuk Indonesia-Indonesia Timur ataupun 3TP. Tapi tentu menjadi concern (perhatian) kita bagaimana meminimalisir kenaikan harga, terutama menjelang Lebaran yang mungkin tinggal dua minggu lagi kurang,” ujar Direktur Maino di Jakarta, Selasa (10/3/2026).
Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), hingga minggu pertama Maret 2026 menunjukkan terdapat 176 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) untuk komoditas daging ayam ras. Sebanyak 111 kabupaten/kota atau sekitar 66 persen masih berada di bawah HAP, sementara 59 kabupaten/kota atau 33 persen tercatat melampaui HAP.
Kemudian, untuk komoditas telur ayam ras, terdapat 207 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan IPH. Sebanyak 108 kabupaten/kota atau sekitar 52 persen masih berada di bawah HAP dan 99 kabupaten/kota atau 47 persen tercatat di atas HAP.
Maino menjelaskan bahwa kondisi produksi unggas secara nasional sendiri dalam keadaan cukup sehingga pasokan tetap terjaga. Berdasarkan pemantauan di lapangan, ketersediaan dari produsen masih mampu memenuhi kebutuhan pasar.
“Nah ini tentu situasinya mungkin nanti menjelang lebaran, biasanya psikologis pasar, peningkatan kebutuhan masyarakat, harga mengalami penyesuaian. Tapi dari sisi produksi, tadi dari pantauan kami di pasar, pasokan telur dari produsen normal, cukup, daging ayam juga demikian, artinya mungkin dari sisi produksi, enggak ada masalah,” jelasnya.
Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman sebelumnya juga menegaskan bahwa pemerintah memastikan kondisi produksi dan ketersediaan stok pangan nasional dalam keadaan mencukupi. Ia mengingatkan seluruh pelaku usaha agar tidak memainkan harga, terlebih menjelang momentum hari besar keagamaan yang biasanya diiringi peningkatan permintaan masyarakat.
“Produksi kita tinggi, stok kita banyak. Yang swasembada pangan kita sudah sembilan, yang belum ada tiga. Nah, yang tiga ini pun belum swasembada, stoknya banyak. Jadi tidak boleh ada main-main,” tegas Kabadan Amran.
Dinamika harga yang terjadi di sejumlah wilayah lebih berkaitan dengan faktor distribusi serta peningkatan kebutuhan masyarakat selama Ramadan-Idulfitri. Oleh karenanya, koordinasi dengan para pelaku usaha perunggasan dimasifkan agar penyaluran komoditas dari daerah sentra produksi menuju wilayah konsumen berjalan efektif, tentu dengan harga yang telah ditetapkan.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menegaskan pemerintah terus mendorong agar harga di tingkat konsumen tetap berada dalam rentang harga acuan yang ditetapkan. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta pelaku usaha perunggasan.
“Kita semua diminta, dari Bapanas, dari kami di Kementerian Pertanian, diminta untuk terus mendorong agar harga telur dan daging ayam ras di tingkat konsumen itu berada di rentang harga acuan pemerintah yang telah ditetapkan. Dan tentu ini harus bisa kita capai dengan kerjasama kita semuanya,” kata Agung.
Di sisi pelaku usaha, Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera, Suwardi menyampaikan kesiapan peternak di wilayah Jawa Tengah untuk turut menjaga stabilitas harga telur ayam ras menjelang Hari Raya Idulfitri. Menurutnya, para peternak yang tergabung dalam koperasi siap mendukung pelaksanaan berbagai program stabilisasi pemerintah, termasuk kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM) di daerah.
"Jadi di wilayah Jawa Tengah kalau memang ada, itu silahkan GPM-nya suruh telpon saya di mana, nanti kita segera meluncur. Karena saya GPM di Kendal harganya Rp 25.000. Saya subsidi dari peternak. Jual telurnya juga berani untuk mensubsidi untuk wilayah daerahnya," tutur Suwardi.
Suwardi menjelaskan, keterlibatan peternak dalam kegiatan GPM merupakan bentuk komitmen untuk membantu masyarakat memperoleh telur dengan harga yang lebih terjangkau, terutama pada periode meningkatnya kebutuhan menjelang Idulfitri. Ia juga memastikan bahwa pasokan telur di wilayah Jawa Tengah dalam kondisi cukup sehingga stabilitas harga dapat tetap terjaga.
"Prinsipnya, menjelang Hari Raya Idul Fitri ini untuk telur wilayah Jawa Tengah cukup aman dan terkendali. Kami siap untuk mengendalikan harga sesuai dengan aturan yang ada," tegasnya.
Pemerintah mengapresiasi dukungan pelaku usaha perunggasan dalam menjaga keterjangkauan harga daging ayam ras dan telur ayam ras di tingkat konsumen. Kolaborasi ini penting untuk memastikan pasokan tetap tersedia di pasar. Pengendalian selanjutnya diarahkan ke wilayah yang masih mengalami tekanan harga agar pasokan dan harga dapat aman sampai Idulfitri 2026.
--------------------
Siaran Pers
Badan Pangan Nasional (Bapanas)
166/R-BAPANAS/III/2026
11 Maret 2026







